Soal Kerapuhan, Inilah Persamaan PSI dengan Gelora

- Juli 21, 2020
Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun memberikan respons terkait kunjungan Partai Gelora ke Istana. Ia menilai hal itu makin memperjelas model ideologi partai tersebut.

“Jika dicermati secara politik memperjelas model ideologi partai tersebut yang cenderung pragmatis,” ujar Ubedilah pada Selasa (21/7/2020).

Watak atau tipologi partai yang cenderung pragmatis, kata dia, memiliki kebiasaan abai dengan cita-cita perjuangan awalnya demi mencapai pucuk kekuasaan.

“Tipologi partai pragmatis biasanya mengabaikan cita-cita awalnya demi pengakuan kekuasaan, mengandalkan dukungan simbol-simbol formal kekuasaan, dan cenderung mengabaikan prinsip dalam berpolitik,” ujar dia.

Apalagi, lanjutnya, jika safari politik itu dilakukan tanpa membawa konten menarik untuk dibahas bersama penguasa.

“Itu juga menunjukkan betapa rapuhnya ideologi partai tersebut,” sambungnya.

Menurut dia, pragmatisme partai baru biasanya terjadi karena minimnya kapital.

Juga karena elit politiknya tersandera sejumlah persoalan, sehingga membutuhkan semacam dukungan luas dari beragam elit.

Dalam sejarah dinamika hadirnya partai baru di dunia, lanjutnya. biasanya cenderung memiliki garis demarkasi (pembatas) yang jelas dengan partai manapun.

“Termasuk dengan penguasa. Hal ini dilakukan untuk membedakan partai baru dengan partai lama,” ungkapnya.

“Tapi di Indonesia ini partai-partai baru seperti Partai Gelora, termasuk juga PSI ternyata tipologinya tidak jauh berbeda dengan partai lama, yaitu pragmatis,” tandasnya.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search