Pernyataan Sikap PB Mathla'ul Anwar Soal Pembongkaran Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz

- Juni 05, 2020
Menjelang penghujung bulan Januari 2020, terjadi kejahatan keji yang benar-benar tidak bisa ditolerir.

Terjadi peristiwa perusakan dan pembongkaran makam salah satu Khalifah Bani Umayyah yang terkenal keadilannya, Umar bin Abdul Aziz dan juga makam isterinya Fatimah binti Abdul Malik. Sejauh
ini dugaan terkuat pelaku pembongkaran makam Khalifah yang dijuluki Umar II ini dilakukan pasukan Milisi pro Presiden Suriah, Bashar Al-Assad didukung oleh milisi bersenjata Iran, yang tergabung dalam pasukanTentara Nasional Suriah alias SAA.

Informasi mengejutkan sekaligus memprihatinkan ini diulas berbagai media berita berbahasa Arab dan
juga melalui media sosial. Namun karena kurang publikasi, informasi ini tidak banyak diketahui masyarakat, khususnya umat Islam.

Di Indonesia, berita ini baru menyeruak pada awal Juni 2020 dan membuat umat Islam terhenyak.

Sebuah video yang menampilkan kehancuran makam Khalifah Umayyah kedelapan ini beredar di media sosial. Pemberitaan di dalam negeripun mulai muncul meskipun tidak banyak. Dalam rekaman video amatir ditunjukkan kehancuran makam sang istri khalifah beserta pelayannya dengan kondisi
telah digali dan isi dari makam dilaporkan hilang.

Situs tempat makam-makam tersebut terletak di Desa Deir Al-Sharqi, provinsi Idlib. Peristiwa pembongkaran ini diduga terjadi sejak akhir Januari 2020, setelah lokasi pemakaman dikuasai oleh
milisi pro Bashar Al-Assad.

Penghormatan Umat terhadap Umar bin Abdul Aziz Umat Islam sangat mengenal sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga merupakan salah satu keturunan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Ayahnya adalah Abdul Aziz, putra Khalifah Marwan Ibnu al-Hakam yang merupakan sepupu Khalifah Utsman Ibnu Affan. Ibunya adalah
Laila, cucu Khalifah Umar Ibnu Al-Khattab.

Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang khalifah yang sangat dihormati dalam dunia Muslim. Beliau dikenal sebagai penguasa yang berani menegakkan keadilan di masa pemerintahannya yang
cenderung singkat yakni dua tahun lima bulan. Beliau dikatakan menjalani gaya hidup yang terbilang keras dan secara sukarela menyerahkan kekayaan pribadi keluarganya kepada rakyat, sehingga mampu mengembalikan kepercayaan rakyat kepada penguasa.

Reputasinya dikenang terutama di tengah masa dinasti Umayyah yang marak kasus korupsi dan dekadensi moral. Tak hanya itu, karena sifatnya yang amanah sebagai pemimpin beliau juga diberi gelar
"Khalifah Kelima".

Gelar tersebut merujuk pada Khulafaur Rasyidin, yaitu empat khalifah di zaman
setelah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Makam Khalifah Umar II dan Fatimah binti Abdul Malik baru dimasuki, diambil gambarnya dan disebarluaskan setelah Jumat 29 Mei 2020. Tidak ada yang mengetahui apakah jenazah Khalifah Umar
dan Fatimah masih utuh saat dibongkar paksa. Dan tak ada yang mengetahui ada benda-benda penting apa saja di dalam makam saat dibongkar. Yang pasti, ketika ditemukan makam sudah terbongkar dan
kosong.

Diperkirakan pembongkaran awal terjadi di akhir Januari atau awal Februari 2020.

Kami, Pengurus Besar Mathla'ul Anwar sangat mengecam kejahatan dan kekejian luar biasa ini dan menyatakan sikap sebagai berikut:

Pertama, merusak makam atau kuburan, adalah haram hukumnya. Apalagi membongkarnya, dan mengambil tulang belulang isinya, dan bahkan membakar sebagiannya. Apa yang tejadi di Idlib, Suriah, berupa perusakan, penggalian, pembongkaran, pembakaran, dan pencurian isi makam Khalifah Umar
bin Abdul Aziz, dan isteri, juga pelayannya, adalah tindakan terlarang, dan sangat tercela.

Kedua, Umar ibnu Abdul Aziz adalah sosok yang sangat dihormati oleh Umat Islam. Jasa beliau yang luar biasa karena menegakkan keadilan sepanjang masa pemerintahannya yang singkat, yakni dua
tahun lima bulan pada abad ke-8. Sosoknya yang saleh dan adil membuatnya dijuluki sebagai "al￾khalifah al’aadil” atau khalifah yang adil.

Karenanya, merusak, membongkar, dan mencuri isi makam tokoh yang dihormati itu, adalah sama dengan melukai perasaan umat Muslim seluruh dunia. Dan bisa
memancing situasi yang bertolak belakang dengan misi kedamaian dan keharmonisan hidup, yang dibangun oleh Islam selama berabad-abad lamanya.

Ketiga, kejahatan luar biasa dan keji yang diduga kuat dilakukan oleh Milisi bersenjata pro Bashar Al￾Assad yang didukung oleh Milisi Iran, menguak kebencian sektarian mereka yang begitu membara terhadap orang-orang beriman yang tidak satu paham, tidak satu aqidah, dengan mereka. Para pelaku adalah orang-orang yang menyimpan dendam amarah besar terhadap pihak yang berbeda dengan
mereka. Dan karenanya, dendam kesumat itu mereka salurkan hingga pada makam orang-orang yangm sekalipun, meskipun orang-orang itu sudah wafat beratus tahun lalu. Dendam ini sangat berbahaya dalam kehidupan manusia di manapun.

Keempat, menekankan kepada Organisasi Islam Dunia, untuk segera melakukan tindakan guna menghentikan kekejian-kekejian serupa yang mungkin saja terjadi kembali di Suriah yang tengah
dicabik oleh perang. Dan melalui OKI, agar melakukan tekanan terhadap Mahkamah Internasional untuk mengadili semua pelaku dan pihak-pihak yang memberi dukungan dan fasilitas terhadap penghancuran makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kelima, meminta pemerintah Republik Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri untuk
mengeluarkan pernyataan terhadap pelanggaran keji yang terjadi di Suriah, tentang pembongkaran
makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini. Posisi Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas
Muslim bermazhab Syafi’i sangat keras menghukumi masalah makam yang mengharamkan tindakan
merusak makam. Apalagi dalam kasus ini terjadi pencurian tulang belulang yang hingga kini tak
diketahui ada di mana tulang belulang yang ada di dalam makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu.

Keenam, menghimbau seluruh komponen masyarakat di Indonesia, untuk tetap tenang dan tidak
terjebak pada upaya provokasi dari pihak tertentu yang ingin merusak keharmonisan hubungan beragama yang ada. Salah satunya adalah dengan menolak keterlibatan sekte-sekte agama tertentu
yang kerap memunculkan perselisihan atau tindakan yang berlawanan dengan arus mainstream
beragama di Indonesia.

Demikianlah pernyataan sikap ini kami buat, agar menjadi perhatian dan pelajaran bagi kita semua.


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search