Faisal Basri Berharap pada PKS Soal RUU Cipta Kerja

- Mei 11, 2020
Ekonom senior Instutute for Development of Economics & Finance (Indef) Faisal Basri menilai pemerintah saat ini pontang-panting mencari utang dan tidak laku surat utang-utangnya.

"Wong semua negara butuh uang kan?!"  kata Faisal Basri saat menjadi narasumber di FGD Omnibus Law Cipta Kerja 'Peran Negara dan Pemerintah dalam Melindungi Kepastian Kerja di Masa Pandemi Covid-19' pada Jumat (8/5/2020).

Oleh sebab itu, ia berharap kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terkait RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

"Ini pembelajaran luar biasa menurut saya dan pemikiran-pemikiran bernas itu kita berharap pada PKS. Kami siap bantu," tegas Faisal.

Dalam konteks ketenagakerjaan, kata dia, adalah apa hubungan buruh, negara dan pengusaha. Kembali ke UUD 1945 pasal 27, pasal 28 mengatakan bahwa buruh wajib mendapatkan penghidupan yang layak. Buruh adalah kekuatan marjinal.

Oleh karena itu, lanjut Faisal, jangan biarkan buruh berhadapan head to head dengan pengusaha. Niscaya buruh akan kalah dan tertindas. Pengusaha banyak pilihan. Buruh tidak banyak pilihan.

"Pengusaha tidak bisa di Indonesia bisa ke Vietnam. Buruh tidak bisa, bisa tapi jadi budak ABK-nya China," kata dia.

"Omnibus Law Cipta Kerja ruhnya apa? Seharusnya rohnya adalah hubungan baru antara buru dan pengusaha dilindungi pemerintah supaya simetris," imbuh Faisal.

Di Omnibus Law ini, ungkap dia, negara justru ingin lepas tangan, negara ingin keluar dari arena. "Membiarkan buruh dan pengusaha berunding sendiri, berdua. Jadi itu yang nggak benar!" ujar dia.
Advertisement

1 komentar:

avatar

Buruh kurang diperhatikan Pemerintah , tentang kesejahteraan dan jaminanhidupnya yang diberikan Pengusaha. Makanya mengapa tiap tahun bulan demo


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search