PKS yang Santuy

- April 07, 2020



Tak terpilih jadi wakil gubernur DKI, PKS tetap santuy. Bahkan calon yang diusung  dari PKS ucapkan selamat kepada calon dari partai Gerindra yang kemudian terpilih. Setidaknya lewat media sosial.

Asyik. Mengucapkan selamat bekerja kepada Riza Patria yang bakal mendampingi Anies Baswedan. Tak ada kehebohan, tak ada kegaduhan. Sementara, tokoh PKS lain bilang “Dalam bahasa agama itu sudah takdir”. Benar-benar santuy menghadapi “Pengkhianatan” Gerindra ini.

Kalau PKS saja santuy, kenapa banyak yang sewot?

Misalnya ada yang bilang PKS terlalu lugu (polos) dalam berpolitik, ada yang bilang lobi politik PKS payah, ada yang bilang PKS kena PHP, ada yang bilang PKS tidak pernah belajar dari sejarah. Selebihnya, banyak yang kemudian secara spontan mentertawakan realitas politik yang terjadi di DKI ini.

Bermunculan komentar nyinyir atas  calon dari PKS yang akhirnya gagal jadi wakil gubernur DKI. Satu renungan kecil.  Bagaimana kita melihat dengan sudut pandang berbeda realitas politik demikian?

Kita tahu, politik bagi kader Tarbiyah hanya salah satu jalur dakwah (perjuangan) saja.  Selain berjuang di parlemen dan ekskutif lewat jalur partai (PKS), masih banyak jalan lain bagi kader-kader Tarbiyah berkiprah. Misalnya lewat jalur organisasi massa, ikatan pendakwah (penceramah), LSM, media, komunitas pengusaha bahkan komunitas penulis. Dengan begitu, kekuasaan memang penting, tapi bukan tujuan. Kekuasaan bagi PKS adalah semacam sarana saja agar dakwah (perjuangan) bisa semakin terbuka. Hasil akhirnya, syiar berkembang, umat maju baik di segala bidang kehidupan.

Mungkin ini terkesan ngeles atau berapologi  atas kelemahan PKS. Semacam sebuah usaha untuk sekadar menghibur diri. Tapi, sebagai orang “Luar”, saya melihatnya demikian. Yang terpenting bagi PKS adalah terus melayani. Dengan terus melakukan pelayanan kepada masyarakat (umat), tanpa diminta sekalipun orang akan memilih PKS dengan sukarela. Benarkah demikian?

Saya kasih contoh, ada sebuah perkampungan padat penduduk di belakang Senayan City, Jakarta Selatan. Pada suatu ketika, perkampungan itu kebakaran. Habis semua, tak tersisa, rata dengan tanah.  Di situlah PKS hadir, memberikan pelayanan. Membantu segala hal yang diperlukan, termasuk membantu pembangunan kembali perkampungan. Hasilnya, tanpa diminta, dengan pelayanan nyata itu, mayoritas penduduk memilih PKS. Sesederhana itu.

Jadi, saya kira, mungkin dalam politik elit, komunikasi PKS dinilai kurang lihai. Sering dikibulin, tapi, komunikasi pelayanan di tingkat akar rumput PKS jaya. Itu sebabnya, masuk akal kalau suara terus meningkat. Wakil diparlemen selalu dapat dan signifikan jumlahnya.

Terlepas dari itu, saya memang cenderung setuju saja PKS santuy terhadap beragam realitas politik yang dihadapi. Tapi, kalau boleh sedikit memberikan saran, kalau bisa jangan lagi terlalu sopan. Khususnya kepada partai lain yang terang-terang melakukan pengkhianatan. Walau dengan sesumbar mengatakan tak ada pengkhianatan, semua terjadi karena dinamika politik ditambah bumbu bualan retorika lain.

PKS, saya kira perlu lebih galak lagi. Membangun sebuah posisi tawar yang bisa menekuk lawan politik sampai tak berkutik dan tidak main-main pada sebuah komitmen.

Bagaimana caranya? Saya tidak tahu. Tapi intinya seperti itu.  Begitulah PKS, tetaplah santuy dan terus berikan pelayanan yang terbaik untuk umat.


Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Kanet Indonesia)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search