Kronologi Dosen Kampus Islam Aceh yang Membawa Lari Anaknya

- April 30, 2020

Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, T. Sukri Masnur bermasalah dengan hukum terkait perebutan anak setelah mengabaikan perintah pengadilan terkait hak asuh anak.

Ia diketahui melarikan dengan paksa anak mereka dari mantan istrinya di Jakarta.

Inilah kronologi kasus perebutan anak ini sejak dari awal menikah di Jakarta hingga dilaporkan ke Polres Abdya.

Teuku Sukri dan Mar’ah menikah pada 1 November 2014 di Jakarta. Dari hasil pernikahan mereka dikaruniai satu orang anak laki-laki bernama Teuku Muhammad Farhad. Namun pernikahan di antara kedua berakhir singkat.

Pada 4 Maret 2019 Mar’ah ditalak 3 via telpon oleh mantan suami yang saat itu sudah ada di Aceh, sedang Mar’ah berada di Jakarta.

Untuk mendapatkan kepastian hukum, Mar’ah kemudian mengurus gugatan perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, tanggal 8 Maret 2019.

Tanggal 13 Mei 2019 Salinan Putusan Perceraian dan Salinan Putusan Hak Asuh Anak jatuh pada sang istri Mar’ah Sholihah. Putusan dinyatakan Verstek, yaitu kewenangan hakim untuk memeriksa dan memutus suatu perkara meskipun Tergugat dalam perkara tersebut tidak hadir di persidangan pada tanggal yang telah ditentukan, menjatuhkan putusan tanpa hadirnya Tergugat. Karena Tergugat tidak hadir, maka putusan tersebut dijatuhkan tanpa bantahan.

Berbekal keputusan Pengadilan Agama tersebut, pada 21 Mei 2019 Mar’ah ditemani ibu dan adik laki-lakinya ke Aceh berupaya menjemput anak mereka. Namun hasilnya nihil meskipun telah melakukan mediasi yang didampingi polisi dan Tim P2TP2A Kab Aceh Barat Daya serta kepala desa setempat.

Pihak Mar’ah mencoba lagi datang berkali-kali ke rumah mantan suami tanpa polisi dengan maksud menyelesaikan permasalahan perebutan anak ini secara kekeluargaan. Namun upaya bertemu dengan sang anak tetap gagal karena dibawa oleh mantan suami entah kemana.

Tanggal 25 Mei 2019 pihak Mar’ah memutuskan untuk pulang ke Jakarta dan memutuskan mengurus eksekusi anak di PA Jakarta Selatan. Sebelumnya pihak Mar’ah juga telah melakukan pendekatan kekeluargaan melalui bantuan Ustad Salman di Aceh Barat Daya, namun kurang direspons. Mar’ah juga berupaya membawa kasus ini dengan menghubungi P2TP2A Pusat dan telah diteruskan ke P2TP2A Provinsi Aceh.

Sesampai di Jakarta, Mar’ah mendaftarkan Proses Eksekusi Anak di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Setelah melalui proses Anmaning gagal karena mantan suami tidak datang, akhirnya diputuskan Proses Eksekusi tanggal 10 Oktober 2019. Anmaning adalah  tindakan dan upaya yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan berupa teguran kepada pihak yang kalah agar ia melaksanakan isi putusan secara sukarela.

Proses Eksekusi dipimpin langsung Ketua Mahkamah Syariyyah Abdya, Pak Amran dan staf didampingi  aparat polisi tanggal 10 Oktober 2019 ternyata gagal. Ananda Farhad dibawa pergi ayahnya tanpa infomasi yang jelas. Di rumah mantan suami yaitu di rumah kediaman orang tuanya hanya ada adiknya Cut Nuura dan suami.

Tim P2TP2A Abdya yang mendampingi akhirnya memutuskan membantu mencari Ananda Farhad secara diam diam. Pelacakan selama sebulan ini juga nihil, akhirnya tim P2TP2A mengusulkan untuk melaporkan kasus ini ke Polres Abdya.

Tanggal 20 November 2019 Mar’ah melaporkan mantan suaminya Teuku Teuku Sukri Masnur ke Polres Abdya dengan tuduhan melawan putusan pengadilan. Polisi melakukan penyidikan, memeriksa saksi-saksi, antara lain ibu Mar’ah yaitu Siti Aminah, adiknya Ahmad Qosam Amrul Haq, dan tetangga di Jakarta yang bernama Rully.

Hingga hari ini, Kejaksaan Negeri Abdya masih belum dapat melanjutkan perkara ini ke pengadilan. Pihak Kejaksaan meminta pihak penggugat untuk melakukan eksekusi ulang melalui Mahkamah Syariah. Menurut Kajari Aceh Barat Daya Nilawati SH, MH, kasus ini tidak dapat diproses dengan alasan pasal tidak sesuai, termasuk perkara perdata, dan bukan wewenang kejaksaan.



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search