Cerita Mualaf yang Jual Rumah Demi Sumbang Tenaga Medis

- April 13, 2020
Dua minggu lalu saya sempat ucapkan saat LIVE di IG, bahwa banyak yg mendonasikan hazmat namun tidak sesuai standard bio hazard safety PPE dan disamping itu belum semua nakes kita mengerti standard PPE (Personal Protective Equipment) atau alat pelindung diri sesuai keamanan Biohazard

Saya gak punya kemampuan menjelaskan ke nakes seluruh Indonesia, namun insyaaAllah bisa di lihat postingan saya (steven.indra.wibowo) atau live saya minggu lalu saya mulai mengejar surgical gown untuk mereka tenaga medis yg kurang paham diatas dan mereka mengenakan hazmat yg seadanya dan dijahit menggunakan benang, bukannya di seaming, membuat rongga di bahan non woven ini berbahaya krn memberi celah virus yg berukuran nanometer untuk masuk tanpa disadari pengguna hazmat

Namun memang kecepatan produksi yang terbatas, saya sudah gak open donasi dan dana 100% saya supply agar terkejar produksinya dan gak nunggu donasi, namun apa daya, la hawla wa la kuwata illa billah, gak keburu

Saya mohon yang mau donasi hazmat dengan jahitan ala mesin jahit biasa, pikirkan mereka tenaga medis yg akan mengenakan, banyak di antara mereka juga yg kurang paham SOP-nya, dan jangan beri mereka hazmat yang dijahit benang, kecuali kalian lengkapi dengan surgical gown agar menjadi PPE phase 2 melapisi hazmat yg dijahit tadi

Niat baik harus dilakukan dengan benar, jangan asal sumbang aja, kasihanilah mereka para pejuang medis yang berada digaris depan

Saya akan tambah produksi hazmat lg 20rb suit, dan surgical gown sampai ke 20rb suit, jadi insyaaAllah jual rumah terakhir kami (saya dan istri) di Salatiga

Semoga menjadi renungan

--Steven Indra, Mualaf Center Indonesia

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search