World Hijab Day: Saya Pernah Diteriaki Teroris di Manila

- Februari 01, 2020


Hari ini, 1 Februari 2020, adalah hari hijab sedunia (World Hijab Day). Digagas oleh warga Amerika Serikat asal Bangladesh Nazma Khan pada tahun 2013. World Hijab Day bertujuan mendorong kesalingpahaman dan toleransi antar agama, menghilangkan praduga,  kebencian, dan Islamophobia di masyarakat. Khususnya perempuan berhijab. Dengan memberi momentum bagi para perempuan - termasuk yang bukan Muslim - yang ingin mencoba hijab di hari ini.

Saya paham Islamophopbia sungguh menyesakkan dada. Saya pernah tinggal di Manila yang mayoritas Katholik dan diteriakin teroris oleh anak-anak di jalan. Seorang teman bercerita bahwa ibu kos-nya mewanti-wanti agar tak berkawan dekat dengan seorang Muslim, karena berbahaya.

Saya paham mengapa World Hijab Day diperlukan. Sebuah kampanye simpatik untuk mengenalkan hijab kepada masyarakat. Dan meyakinkan bahwa wanita berhijab tidak seburuk yang mereka sangka.

Lalu pada tahun 2018 muncul gerakan kontra yaitu No Hijab Day. Yang digagas oleh seorang aktivis HAM Kanada, Yasmine Mohammed. Dengan tujuan mendukung perempuan lepas dari hijab, mendukung kebebasan setiap perempuan memilih sendiri model pakaiannya. Menolak tekanan siapapun yang mengharuskan perempuan berhijab. No hijab day juga dilakukan pada hari yang sama, 1 Februari.

Kita sih di Indonesia bebas memilih. Mau berhijab atau tidak berhijab, silakan saja. Sebab konstitusi kita memberi kebebasan berpendapat, dan bagi ummat beragama untuk menjalankan keyakinanya.

Dan saya memilih berhijab. Sejak awal masuk kuliah. Dengan kesadaran penuh. Saya tidak mengalami tekanan keharusan berhijab. Bahkan sempat harus memperjuangkan hak berhijab, ketika awal-awal ditentang keluarga. Saya tak punya pengalaman represi hijab, seperti yang dikampanyekan no hijab day.

Bahwa tidak berhijab itu adalah hak, itu benar. Sama seperti setiap orang berhak untuk berhijab. Bahkan beragama itu adalah hak, sama seperti meninggalkan agama juga adalah hak. Maka saya tidak menentang kampanye no hijab day.

Tapi pengalaman pribadi membuat saya lebih mendukung kampanye World Hijab Day. Saya tahu masih ada islamophobia, masih ada kecurigaan, ketidakmengertian - terhadap hijab. Terutama cadar. Ingat kan bagaimana cadar sempat dilarang di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Maka bagi saya World Hijab Day relevan. Penting untuk mengkampanyekan perdamaian, kesalingmengertian, toleransi antar manusia. Berupaya menghilangkan kesalingcurigaan dan Islamophopia. Demi sebuah dunia yang lebih damai.

Bagaimana dengan teman-teman?

Tatak Ujiyati
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search