Tiga Juz Dalam Semalam Sebelum Gus Sholah Berpulang

- Februari 11, 2020

Gus Sholah dan Bu Nyai Farida, Bapak dan Ibuku sering digoda dengan panggilan truk gandeng.
Artinya, kemana mana Beliau berdua pergi, hampir selalu berduaan. Kalau keluar kota, seringnya tanpa ajudan, tanpa asisten.

Kebisaan berduaan itu juga terjadi di rumah. Dimulai dengan sholat tahajjud barengan, lalu lanjut mengaji berduaan. Masing-masing 1 juz.

Malam itu, diruang Rawat Intensif khusus jantung, sekitar 5 hari sebelum Bapak wafat, Bapak malam2 minta diputarkan juz 27 melalui ipod yang diletakkan disamping bantal tidur Bapak.

Beliau mau mengaji, katanya. Walaupun kondisi agak lemah dan tiduran, Bapak tetap kekeuh mau mengaji dengan dibantu alunan murotal.

Selesai mengaji, Beliau kita minta untuk istirahat.
Beliau setuju.
Lalu berubah pikiran.
Minta permen pedes.

Terus minta diputar juz 28 dan 29.
Awalnya kita melarang karena Bapak butuh istirahat.
Tapi ya namanya gen Wahid, pasti keukeuh surekeuh.

Kita tanya kenapa?

Beliau bilang, “SAYA MAU BURUAN KHATAM. Malam ini 27,28,29. Besok 30. Selesai.” Seakan ada target waktu yang dikejar.

Begitulah. Besoknya Bapak berniat menyelesaikan juz 30.

Rupanya, besok itu, adalah HARI TERAKHIR BAPAK sebelum Beliau dioperasi.

Jumat pagi Bapak dioperasi.
Sempat sadar sebentar, lalu hilang kesadaran dan wafat.

Itulah rahasia kenapa Bapak keukeuh mau habiskan 3 juz dalam semalam.

Karena Bapak tahu bahwa Bapak berkejaran dengan waktu.
Itulah ‘ganjaran’ untuk mereka yang mencintai Qur’an.


Allahummarhamna Bil Quran
Waj’alhulanna Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah.

-- Ipang Wahid
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search