Ade Armando Dipolisikan

- Februari 12, 2020
Loyalis Jokowi yang juga dosen komunikasi UI Indonesia Ade Armando dipolisikan buntut dianggap telah menghina ormas Front Pembela Islam (FPI). Laporan dibuat di Polda Metro Jaya pada Selasa 11 Februari 2020 kemarin oleh anggota FPI bernama Herman Dzarkasih.

Laporan bernomor LP/932/II/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tanggal 11 Februari. Ade dilaporkan terkait dugaan tindak pidana penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia pasal 156 KUHP.

"Melaporkan Ade Armando ke Polda Metro Jaya," kata pengacara pelapor, Aziz Yanuar, pada Rabu (12/2/2020).

Ade dilaporkan buntut pernyataan soal FPI dalam video yang diunggah akun YouTube Realita TV. Dalam membuat laporan, kliennya lanjut Aziz melampirkan sejumlah barang bukti.  Beberapa barang bukti itu adalah link video, CD berisi rekaman pernyataan Ade, serta narasi singkat transkrip percakapan.

Diharapkan polisi bisa segera menindaklanjuti laporan ini. "Ade dilaporkan karena telah menghina FPI," katanya lagi.

Ade Armando kembali menyinggung soal organisasi Front Pembela Islam (FPI). Dalam video yang diunggah melalui akun CokroTV, pada Selasa, 11 Februari 2020, Ade dengan tegas menyebut bahwa FPI adalah organisasi yang tidak baik.

"Mereka itu jahat," kata Ade dalam video tersebut.

Ade mengatakan salah satu gebrakan paling terkenal adalah pada 2008 ketika FPI menyerang aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Monas. Menurutnya, waktu itu ratusan orang FPI menyerbu dan memukuli para anggota aksi yang bukan saja terdiri dari pria dewasa, tapi juga ibu-ibu.

"Empat belas orang terluka," kata Ade lagi.

Sejak saat itulah nama FPI menjadi semakin mengemuka sebagai kumpulan tukang pukul berjubah agama. Dan citra itu, kata Ade, sangat digunakan oleh FPI.

"Seorang kenalan di sektor hiburan bilang mereka tidak mau berurusan dengan FPI. Kalau FPI datang ya sudah siapkan saja amplop, biasanya urusan segera selesai," kata Ade.

Tak berhenti di sana, cerita soal FPI juga terkait dengan majalah Playboy pada 2006. Pada saat itu, FPI mengancam majalah tersebut.

"FPI menolak kehadiran majalah playboy Indonesia, mereka bahkan menyerbu kantor Playboy di Jakarta. Playboy dituntut ke pengadilan," kata dia.

"Nah, saat itulah, menurut cerita mantan pemred Playboy ada anggota-anggota FPI mendatangi kantor Playboy, mereka menjanjikan akan menstop proses pengadilan kalau Playboy mau memenuhi permintaan mereka," ujarnya.

Mula-mula, lanjut Ade, permintaan mereka masih bisa dipenuhi. Mereka minta tiket ke Bali dan dibiayai ongkos naik haji.

Sampai di sana, Ade menyebutkan permintaan itu masih diikuti. Tapi di Bali, mereka minta lebih.

"Mereka minta disediakan, maaf ya, perempuan bule. Ketika itulah si pemred menolak sambil bilang 'Kami bukan germo'," kata Ade.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search