Sinta Gusdur: Hijab Tidak Wajib, Itu Budaya

- Januari 16, 2020

Istri mendiang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gusdur), Sinta Nuriyah bercerita tentang mendiang suaminya.

Jika Gusdur belum meninggal dunia, kata dia, pasti akan bilang muslimah tidak diharuskan memakai hijab.

"Iya (Gusdur akan mengatakan wanita muslimah tak harus pakai hijab),” kata Sinta saat acara bersama Deddy Cobuzier yang diunggah ke Youtube. Selain Sinta, putri bungsunya, Inayah Wulandari Wahid juga ikut.

Anak Emak itu pun menyadari bakal dicaci maki atau di-bully oleh masyarakat, karena pandangan yang berbeda soal hijab. Tapi, mereka tetap berani karena mengartikan Al Qur’an secara kontekstual bukan tekstual.

"Itu (hijab) kan budaya. Orang menerjemahkan ayat-ayat itu harus memenuhi persyaratan, menguasai alatnya, nahwu sharaf-nya, dari segi budaya bagaimana, semuanya harus ada,” ujarnya.

Kontroversi pemakaian hijab bagi wanita muslimah tidak jauh dari surga dan neraka. Padahal, neraka dan surga itu milik Allah SWT. Sehingga, manusia tidak bisa menjustifikasi seseorang masuk surga atau neraka.

“Apakah masuk neraka? Neraka itu milik siapa? Surga itu milik siapa? Yang memasukkan ke surga itu siapa? Apakah Anda sendiri dengan jilbabnya sendiri, itu yang memasukkan ke surga? Saya kalau ditanya, siapa yang masuk surga terlebih dahulu? Itu adalah sopir yang ugal-ugalan. Karena bikin semua orang berdoa,” ujarnya.

Inayah mengaku dari dulu Gusdur tidak pernah mengharuskan putri-putrinya memakai hijab. Bahkan, jika masih hidup pun Gusdur akan tetap tak akan memaksa putrinya supaya pakai hijab.

“Dari dulu (Gusdur) enggak pernah (nyuruh anaknya pakai hijab),” kata Inayah.
Ia mencontohkan dulu istri para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), kerudungnya seperti yang dipakai oleh Ibu Sinta Nuriyah. 

Makanya, perlu dilihat juga sejarah-sejarah yang belum diketahui. Sebab, Inayah memang besar dari lingkungan keluarga NU.

“Terus sekarang kita bilang bahwa yang tidak pakai jilbab, itu orang yang tidak dapat hidayah. Lalu, kita mau bilang istri para kyai pendiri NU, atau kyai zaman dulu itu mereka tidak mendapat hidayah?” ucapnya.

Wacana untuk mengenakan hijab itu kan munculnya akhir-akhir tahun ini sekitar 10 atau 15 tahun belakangan.

“Terus sebelumnya para muslimah yang tidak pakai jilbab dianggap tidak mendapatkan hidayah?” ujar Inayah.

Advertisement

1 komentar:

avatar

Andai puteri saya tdk berjilbab, berarti bisa tersimpulkan, saya tdk menyuruh dia berjilbab atau saya tdk percaya akan kewajiban jilbab. Ini menurut logika nyonya & puteri Gus Dur.

Ini namanya logika "sak karepmu dewe".

Seharusnya selidiki dulu:
1. Siapa tahu para pendiri NU tsb sdh menyuruh isterinya dg seoptimal mungkin supaya pakai jilbab.
2. Siapa tahu, meski isteri para pendiri NU tsb tdk pakai jilbab, beliau msh berpikiran jilbab itu wajib.
3. Siapa tahu, meskipun punya isteri yg tdk pakai jilbab, para pendiri NU tsb juga berpikiran bahwa jilbab itu wajib.

Dg logika sontoloyo nyonya & anak Gus Dur tsb, jikalau ada anak seorang kyai gemar mabuk & zina, bisa-bisa kyai tsb tertuduh tdk mengharamkan mabuk & zina.

Enak tenan pake logika seperti ini. Logika koplak dipakai dg gaya seperti org berpendidikan.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search