Muslim Kazakh Diperlakukan China: "Itu Bukan Sekolah, Itu Penjara"

- Januari 16, 2020
Ribuan etnis Kazakh yang beragama Islam ditahan di kamp `re-edukasi` di China. Selama di sana, orang-orang yang keluar dari kamp tersebut menyatakan mereka mengalami penyiksaan.

Kebanyakan dari anggota etnis Kazakh ini tinggal di perbatasan dengan China, dan mereka menjadi pelintas batas selama berabad-abad.

Belakangan pemerintah China menangkapi para pelintas batas Kazakh ini dan membawa mereka untuk menjalani re-edukasi di berbagai kamp yang ada di Provinsi Xinjiang.

Saksi-saksi mata yang keluar dari kamp itu menyatakan, di depan `sekolah` tersebut ada tulisan `sekolah kejuruan` dalam bahasa China dan Uighur.

Pemerintah China menyatakan sekolah-sekolah itu adalah sekolah kejuruan yang ditujukan memberi pelatihan, dan para pelajar masuk ke dalamnya secara sukarela.

Seorang Muslim Kazakh bernama Orinbeck yang pernah ditahan di sekolah itu selama empat bulan menceritakan pengalamannya.

"Saya harus mempelajari kebijakan-kebijakan pemerintah China, saya harus belajar bahasa dan sejarah China," katanya.

"Kami juga harus melupakan bahasa Kazakh. Kata mereka, kalau saya tidak belajar lagu-lagu dan aksara China, maka saya tak boleh meninggalkan tempat itu," kata Orinbeck lagi.

Gulzira ditahan di kamp itu selama 15 bulan, dan sesudah tiga bulan di sana, ia mengaku disuntik dengan suntikan yang tak ia ketahui. - BBC

Seorang perempuan Kazakh, Gulzira, pernah ditahan di sana selama 15 bulan.

"Itu bukan sekolah. Itu penjara," katanya. Gulzira juga mengaku bahwa ia diberi suntikan sesudah tinggal di kamp itu selama tiga bulan.

Ia tidak pernah tahu untuk apa suntikan itu. "Kalau menolak, mereka akan dikirim ke kamp yang lebih keras lagi," katanya.

Orinbeck yang pernah ditahan di kamp itu mengaku dibentak dan dipukul ketika membasuh tangan dan wajahnya untuk berwudhu, demikian dilansir BBC.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search