Embargo Kasus Reinhard Sinaga

- Januari 26, 2020
Kasus Reinhard Sinaga yang memperkosa sebanyak 195 pria di Inggris menggemparkan dunia. Pemerkosaan  terbesar yang tercatat dalam sejarah Inggris tersebut melibatkan Indonesia karena terbukti pelakunya merupakan WNI.

Ternyata, kasus tersebut mulai diproses sejak tahun 2017. Saat korban pemerkosaan tiba-tiba terbangun lalu memukul Reynhard. Lantas kasus tersebut pun sampai dibawa ke pengadilan.

Pengadilan membuka kasus ini kepada media selama persidangan, namun melakukan embargo terhadap media. Wartawan diperbolehkan mewawancarai hakim maupun juri. Tapi, informasi tidak boleh keluar dari gedung persidangan. Bila melanggarkan, bisa terkena tindak pidana.

Melalui kasus tersebut, Jatinetwork mengundang wartawan BBC London yang menulis untuk BBC Indonesia, Mohammad Susilo pada Sabtu, 25  Januari 2020. Acara ini bertajuk 'Workshop Penulisan Kasus Sensitif: Contoh Media Embargo BBC Pada Kasus Raynhard Sinaga' di Perpustakaan Pusat Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Susilo menceritakan pengalamannya dan rekannya ketika meliput persidangan.

"Kasus Reynhard ini sangat menarik dibahas. Apalagi banyak orang yang tidak tahu apa itu embargo media. Bagaimana proses penulisannya, aturan apa yang harus diikuti, serta etika apa yang harus diperhatikan," ujar Fairuz Fildzah, pemimpin redaksi Jatinetwork dalam sambutannya.

Memulai seminar, Susilo bercerita dengan menunjukkan media cetak di Inggris seperti Metro, The Independent, Daily Mail, dan The Guardian. Halaman koran-koran tersebut memperlihatkan wajah Reynhard dengan berbagai judul mengenai kasus pemerkosaan.

"Uniknya dari berita-berita ini tidak menuliskan nama Indonesia. Jadi fokus hanya dengan kasusnya saja," ujarnya.

Kasus pencarian bukti hingga pengadilan yang berjalan selama 2,5 tahun. Namun Susilo mengungkapkan proses sidang berjalan setahun dengan empat kali sidang. Vonis Reynhard baru diumumkan pada akhir Desember 2019. Barulah pada 6 Januari 2020 pengadilan menjatuhkan vonis. Embargo media pun dihentikan.

Dalam proses peliputannya, Susilo mengungkapka ada beberapa alasan mengapa kasus ini dirahasiakan. Mulai dari membantu polisi mengindentifikasi korban sampai merahasiakan korban agar mau bersaksi di pengadilan.

"Korban didatangi polisi. Dikatakan bahwa ia telah diperkosa. Banyak dari mereka yang shock. Bahkan sampai ingin bunuh diri," cerita Susilo.

Dalam acara, Susilo juga membahas bagaimana proses peliputan hingga penulisan kasus Reynhard oleh tim BBC London, BBC Manchester, dan BBC Indonesia. Mulai dari mengikuti persidangan, mewawancara teman Reynhard dulu di kampus Indonesia hingga mendatangi keluarganya di Depok.

Susilo mengungkapkan alasan mengapa BBC tidak merilis nama orang tua, alamat, maupun hal pribadi lainnya karena hanya ingin fokus kepada pelakunya saja. Media di Indonesia menuliskan nama orangtua, namun tim editor policy dan legal BBC tak ingin mengungkapkan karena menyangkut etika dan hati nurani.

Dari proses pengadilan sampai penulisannya pun Susilo bercerita bahwa ia dan rekan-rekannya sempat stres. Selama lebih dari dua tahun wartawan menyimpan rahasia besar. Ia bercerita bahwa BBC menyediakan tenaga konseling untuk para wartawan yang meliput pengadilan Reynhard.

Susilo dan timnya pun sudah menyiapkan tulisan sejak September 2019. Dokumen yang didapatkan dari persidangan pun tak boleh keluar dari kantor atau tertinggal di tempat umum. Dalam prosesnya, tulisan setidaknya harus melewati empat kali tahap editing. Melalui tim editorial policy, tim legal, dan dua editor lainnya.

"Saya jadi tau seperti apa kronologis dari kasus Raynhard ini dan juga bagaimana media bekerja di dalamnya. Saya juga senang bisa berunding berbagi pendapat dengan peserta lain tentang bagaimana mengambil angle anti-mainstream pada kasus Raynhard ini," ujar Fathur, peserta seminar dari mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Setelah seminar, acara dilanjutkan dengan workshop. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar. Susilo meminta peserta untuk mendiskusikan angle pemberitaan apa yang bisa dibuat selain apa yang diberitakan oleh BBC Indonesia.  Peserta pun terlihat antusias dan aktif mengutarakan ide.

"Ada beberapa angle yang kita ambil. Ada lima. Kami angkat dari sisi kriminal. RS kan mengambil video, kenapa dia melakukan demikian. Kedua dari pendidikan. Dia sudah S2 dan menuju S3. Seharusnya tau etika kan. Ketiga, pola asuh keluarga. Apakah ada kaitannya dengan pola asuh keluarga. Apakah ayahnya juga ada kasus. Keempat, pandangan orang UK terhadap kasus ini. Apakah ada pandangan sensitif warga UK terhadap warga Indonesia," terang Febian, perwakilan dari peserta.

Dalam sesi pertanyaan, Susilo sempat menjawab pertanyaan peserta bagaimana sulitnya meliput kasus sensitif seperti pemerkosaan. Dalam jurnalisme, data dan fakta merupakan modal utama untuk menulis berita. Ia dan rekan-rekannya tak boleh sembarangan. Bahkan bila sumber berita tidak lengkap, maka tidak akan asal dimuat.

Contact person:
Fay 082117480997
Instagram @jatinetwork.id
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search