Di Vatikan, Yahya Staqof: Kategori 'Kafir' Tidak Relevan di Ruang Publik

- Januari 18, 2020
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau yang dikenal dengan panggilan Gus Yahya mengajak para pemimpin agama untuk melakukan refleksi sejujur-jujurnya tentang posisi teologis agama masing-masing dalam upaya perdamaian.

“Harus diakui, ada norma-norma ortodoksi yang memang masih mendorong segregasi, diskriminasi, dan konflik," ujar Gus Yahya.

Ia menyatakan itu dalam forum Abrahamic Faiths Initiative (Inisiatif Agama-agama Ibrahimiyah) di Vatikan, sejak tanggal Selasa-Jumat (14-17/1/20).

Norma-norma itu harus dihadapkan dengan konteks realitas globalisasi abad ke-21 ini, yaitu konflik antaragama tidak mungkin lagi dilokalisir sehingga akan memicu benturan universal yang kaotik dan sudah pasti pada ujungnya akan meruntuhkan seluruh peradaban dunia.

Upaya-upaya rekontekstualisasi fikih yang telah dilakukan di lingkungan Nahdlatul Ulama sejak 1984, kata dia, yaitu ketika Rais Aam KH Achmad Shiddiq meletakkan kerangka teologis bagi “Ukhuwwah Basyariyyah”.

“Pada bulan Februari 2019 yang lalu, Musyawarah Nasional Alim-ulama NU menetapkan bahwa kategori kafir tidak lagi relevan untuk di ruang publik dalam konteks negara-bangsa moderen. Dimensi sosial-politik dari terma kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal, yang sekarang sudah tidak ada lagi," tuturnya.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search