Cerita Orang Madura Terjebak Corona di Kota Mati China

- Januari 26, 2020
Ilustrasi: NY Times
Seorang mahasiswa Madura yang tengah menuntut ilmu di Central China Normal University, Wuhan, bernama
Nur Mussyafak, bercerita mengenai situasi kota dan keseharian dia dan teman-temannya setelah penyebaran virus 2019-nCoV.

Wuhan diketahui tengah dalam kondisi "lockdown" atau ditutup untuk mencegah penyebaran lebih lanjut virus tersebut.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPI) Wuhan itu menuturkan, sejak adanya berita penyebaran tersebut, dia dan teman-temannya diminta untuk tidak sering-sering keluar kamar.

Ia juga mengaku, kini ia menjadi lebih sering memasak sendiri makanan yang akan dikonsumsinya, setelah merebaknya penyebaran virus tersebut. Hal ini ia lakukan, juga karena adanya imbauan dari pihak universitas untuk tidak membeli makanan di luar untuk sementara waktu.

"Pihak kampus meminta kami untuk tidak keluar kamar dan meminta kami untuk selalu memakai masker, cuci tangan setiap kali kembali dari keluar dan menghindari jajanan, sehingga kami lebih sering masak. Itulah yang kami rasakan," ucap Nur pada Jumat (24/1/2020).

Terkait dengan suasana di kota Wuhan, Nur mengatakan, kota tersebut saat ini sangat sepi. Apalagi setelah pemerintah menghentikan operasional seluruh tranportasi umum.

"Di kota sendiri, lebih sepi. Sebab, transportasi umum sudah tidak ada, metro, dan MRT sudah tidak beroperasi. Kini, lebih banyak banyak kendaraan pribadi, itupun tidak terlalu banyak jumlahnya. Taksi ada, tapi jumlahnya sedikit," ucapnya.

Nur mengatakan dia dan teman-temannya pernah menjalani pemeriksaan suhu tubuh. "Tapi, itu hanya satu kali. Setelah itu lebih banyak diberikan arahan kepada teman-teman bagaimana cara menghindari virus ini," tukasnya.

Nur dan mahasiswa Indonesia lainnya di Wuhan saat ini dalam kondisi baik dan meminta doa kepada masyarakat agar penyebaran virus ini dapat segera berakhir.



Sumber: Sindo

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search