Yang Minoritas Tak Harap Ucapan, yang Sok Toleran Ganjen Ucapkan

- Desember 24, 2019


Selebtwit Indonesia yang kini tinggal di luar negeri, Vierda mengaku tidak pernah merasa inferior meski menjadi minoritas Muslim di negara tempat ia berpijak.

"Gw sekarang tinggal di negara orang sebagai minoritas, ngga pernah perasaan gw cerewet minta mayoritas ngucapin selamat saat Idul Adha or Idul Fitri," kata dia pada Selasa (24/12/2019).

Bahkan, kata dia, kalau di kantor kek orang-orangnya nggak ngeh kalau dirinya lebaran.

"Ngga juga ngerasa terasing dan baper. Biasa aja," kata dia.

"Memberi ucapan sebenarnya bukan sebuah obligation, lebih ke basa basi aja. Gw sendiri ikut fatwa yang ngga ngucapin, dan gw ngga pernah berharap dan memaksa juga orang lain ngucapin selamat saat lebaran.

Tidak ikut merayakan hari keagamaanmu bukan berarti orang lain memusuhimu.

Asal bisa sholat, ketemu dan makan bareng sama keluarga saat lebaran mah buat gw udah cukup

Yang lain, bonus aja...ada yang ngucapin yah gw paling juga cuma bisa bales "thank you", ngga diucapin lebarannya tetap ada koq," kata dia menambahkan.

Pernyataan tersebut mendapatkan respons dari warganet.

"Setuju kakak. Lakum dinukum waliyadin. Tidak ada obligasi apapun prihal saling mengucapkan selamat hari raya agama masing2.
Yang mau ngucapin ya monggo tanpa tendensi apa2. Dan yg gak merasa diucapin ya jangan jd baper," kata dia warganet bernama R. Goestama.

Akmal Sjafril, aktivis gerakan Indonesia Tanpa JIL mengatakan
minoritas di sini pun sama, tak pernah minta ucapan macam-macam.

"Yang ribet justru mrk yg bagian dr mayoritas, tp mentalnya inferior, jd merasa bersalah walaupun gak salah dan gak ada yg mempersalahkan. Mental kacung, berusaha menyenangkan majikan. Begitu cara mrk memandang diri," kata Akmal yang juga penulis buku itu.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search