Nikah Beda Agama

- Desember 11, 2019
Nikah beda agama (NBA), dalam hal ini terbagi kedalam dua pembahasan besar. Muslim menikah dg bukan muslimah & muslimah menikah dg non muslim.

Sebelum membahas lebih lanjut, seorang sarjana muslim sudah seharusnya melihat urutan dalil dalam setiap pembahasan.

Urutan dalil yg saya maksud adalah dalil ijma'. Pembahasan ini apakah sudah ada ijma'nya atau belum?

Dalil Ijma' adalah dalil pertama yg harus dilihat oleh seorang sarjana muslim sebelum mebahas lbh dalam perihal NBA ini.

Sarjana muslim yg faham ushul semestinya sudah tahu hal ini.

Metode ini sdh lama dijelaskan okeh pakar ushul fiqih islam. Baca: Al-Mustashfa, Al-Ihkam, Al-Burhan, Taisir At-Tahrir. Baca juga: Syarh Mukhtashor Ibnu Hajib, Jam'u Al-Jawami', Al-Luma', serta beberapa kita-kitab ushul fiqih lainnya.

Ijma' itu awalnya memang intaj al-basyar (produk manusia) akan tetapi hasilnya adalalah qoth'iy (permanen). Karena Rasul SAW bersabda: "Ummatku tidak mungkin bersepakat alam kesesatan".

Ummatku di sini maksudnya adalah para mujtahid. Lagi-lagi bahwa sarjana muslim harusnya tahu siapa itu mujtahid?

Dalam pembahasan NBA khususnya masalah muslimah menikah dg non muslim sudah ada ijma'nya. Para ulama sepakat tidak boleh. Karena sudah ijma'nya, kita sami'na wa atho'na (kita terima dg lapang ada). Begini cara beragama yg baik. Ta'at pada petunjuk.

Kita bisa baca Tafsir Al-Qurthubi dlm menafsirkan QS: 2: 221. Sudah diijma'kan bhw muslimah menikah dg non muslim tidak boleh.

QS. 2: 221 ini sangat jelas melarang para wali menikahlan perempuan muslimah dg non muslim.   Tidak ada penghkhususan dalam pelarangan haramnya menikahkan muslimah dg non muslim ini. Mutlak.

Kebagiaan yg diinginkan dr pernikahan itu tidak hanya sebatas bahagia di dunia saja. Islam menginkan kebagiaan itu higga akhirat.  Kecuali jika ada yang hanya mengutamakan bahagia di dunia saja. Ya sudah.

Di sinilah bahayanya pemahaman bhw semua agama itu sama. Tidak. Hanya Islam yg diridhoi di sisi Allah.

Bagaimana mungkin sebuah keluarga bisa bahagia hingga akhirat sana jika pemimpin keluarga adalah non muslim. Inilah yg harus diputus dan tidak boleh ada dalam institusi kecil keluarga. Bahwa muslimah harus dipimpin oleh muslim.

 Mungkin ujung ayat QS. 2:221 tidak banyak dibaca oleh orang liberal.  "Mereka mengajak kepada neraka dan Allah mengajak ke syurga" begitu terjemahan ujung ayat yg saya maksud.  Pelarangan menikahkan muslimah dengan non muslim juga dikuatkan oleh beberpa hadits dan Atsar sahabat.  Lengkap sudah dalil kita: Al-Qur'an, Hadits dan Ijma'.

Begini seharusnya cara berpikir sarjana muslim ketika berbicara tentang hukum Islam.  Kebolehan menikahkan muslimah dg non muslim hanya milik org liberal yang katanya progresif itu.  Tidak ada satupun ulama yg berani menentang ijma' kecuali mereka-mereka itu. Apakah mereka ulama?


Ditulis oleh Ustaz Saiyid Mahadhir Lc., pada 18/5/2013.


-- 

Belum lama ini, seorang warganet berbagi pengalamannya memilih menikah beda agama di Indonesia.

"Menikah beda agama. (Saya katolik, suami islam). Kuncinya 3: cinta, yakin, dan tutup kuping dari komentar nyinyir tetangga," tulis akun @elizabethayudya mengawali thread, Minggu (22/9/2019).

Setelah dikonsultasikan ke KUA, pihak catatan sipil pun mampu menjelaskan bahwa gereja bisa menikahkan pasangan beda agama dan sah menurut negara.

Melewati berbagai tantangan, akhirnya @elizabethayudya dan pasangan bisa melangsungkan pernikahan. Mereka menikah di Gereja Katolik St Jusus Pekerja Condong Catur.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search