Menyangkal 25 Desember Bukan Kelahiran Yesus Kini Bisa Kena Hukuman

- Desember 08, 2019

Mempertanyakan kelahiran Yesus pada 25 Desember kini bisa dikategorikan menista agama. Hal ini terlihat dari kasus earga Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Lamboan Djahamao, yang divonis 6 bulan penjara karena dinilai menista Yesus di akun Facebooknya.

Sebagaimana tertuang dalam putusan kasasi yang dilansir laman resmi Mahkamah Agung (MA), Jumat (8/11/2019), Lamboan mengajukan pledoi. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kalabahi, Lamboan mengajukan pembelaan diri. Yaitu:

Majelis adalah benteng terakhir kami pencari keadilan dan kebenaran dalam kasus saya ini. Kalau pun Tuhan yang saya sembah tidak melepaskan dan membebaskan saya melalui Majelis Hakim, saya tetap tidak menerima hari lahir Tuhan saya dengan tahun kelahiran dan tanggal kelahiran para dewa kekafiran.
Dan akhirnya saya mengucapkan terimakasih buat:

1. MUI yang berani memfatwakan untuk tanggal 25 karena itu budaya kafir;
2. Saudara Jaksa Penuntut Umum yang telah mendakwa saya;
3. Istri tercinta saya yang terus mendukung saya;
4. Semua saudari, sahabat sesama aktivis yang terus mendoakan saya;
5. Semua Saksi yang meringankan saya dan memberatkan saya;
6. Saudara-saudara yang melaporkan saya dipolisi;
7. Saksi Ahli yang memberatkan dan yang meringankan saya;
Apabila sepanjang persidangan ini ada hal-hal yang salah dari saya, saya mohon maaf baik kepada Majelis Hakim, jaksa penuntut umum dan semua peserta.

PN Kalabahi kemudian menyatakan Lamboan telah menista agama.

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan kurungan," kata ketua majelis I Wayan Yasa dengan anggota Yahya Wahyudi dan I Made Wiguna.

Pada 25 September 2018, Pengadilan Tinggi (PT) Kupang memperberat hukuman Lamboan menjadi 18 bulan penjara. Selain itu, diwajibkan membayar denda Rp 100 juta. Bila tidak maka diganti 6 bulan kurungan.

Lamboan tidak terima dan mengajukan kasasi. MA menerima kasasi itu dan mengurangi hukuman Laboan.

"Pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan pidana denda sebesar Rp 100 juta dengan ketentuan apabila pidana denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan," ujar ketua majelis Andi Samsan Nganro dengan anggota Eddy Army dan Margono.
Menurut majelis kasasi, hukuman 18 bulan penjara terlalu berat dan lebih tepat dengan hukuman sebagaimana yang dijatuhkan putusan PN Kalabahi.

"Terdakwa telah meminta maaf atas perbuatannya tersebut dan tidak ada niat untuk menyinggung umat Kristen atau Katholik karena tujuan Terdakwa ingin hal tersebut sebagai bahan diskusi saja," ujar majelis dengan suara bulat.



Sumber

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search