Jalan Cerita Turis yang Ditangkap Gara-gara Sholat di Masjid Uighur

- Desember 29, 2019

Seorang pelancong yang bernama Zikri, berbagi tentang pengalaman mengenai perjalanannya bersama rekan-rekannya yang berasal dari Malaysia yang ditangkap oleh polisi China.

Ia mengatakan bahwa hal itu terjadi ketika ia dan kelompoknya ikut sholat di Masjid Ughyur di Xinjiang, Tiongkok.

Alasannya ia tidak memiliki lisensi untuk melakukan sholat maka ia bersama dengan kelompoknya ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara.

Dari laman worldofbuzz, dalam postingannya Zikri menyampaikan kebahagiannya menemukan Masjid di Provinsi tersebut.

"Satu-satunya Masjid yang bisa kita masuki dan melaksanakan sembahyang dengan damai," ujar Zikri.

Kedamaian itu tak berlangsung lama karena setelah mereka menyelesaikan sholat, mereka melihat pasukan bersenjata dan polisi yan telah menunggu di luar masjid.
Terlihat seorang yang tampak seperti seorang imam yang dimarahi oleh seorang perwira yang berwajah tegas, karena menduga membiarkan sebuah kelompok untuk berdoa.

Zikri dan kelompoknya, yang dalam keadaan takut, ditangkap dan dipaksa meninggalkan Masjid.

Khir Ariffin, yang merupakan pemimpin dari kelompok Malaysia itu dengan tenang memberi tahu salah seorang rekannya yang merupakan salah satu senior editor di salah satu media Malaysia.

"WhatsApp teman-teman Anda di BERNAMA. Beri tahu mereka jika kami tidak dapat dihubungi dalam 24 jam ke depan, beri tahu kedutaan tanpa menyebarkan berita ke media. SOS," ujar Ariffin.

Zikri menyampaikan bahwa kendaaran yang mereka kendarai dijaga dengan ketat oleh angkata bersenjata dan polisi membawa mereka ke lokasi yang tidak diketahui, dengan keadaan takut Zikri dan kelompoknya mengikuti arahan tanpa adanya provokasi.
Tak lama mengirim pesan kepada media dan juga kedutaan, Ariffin mengetahui bahwa kelompok mereka telah diikuti begitu mereka mendarat di Tiongkok.

"Mereka menyamar sebagai petugas kebersihan, warga lokal, dan pemilik toko. Kami terus diawasi," tulis Zikri.

Setelah sampai di lokasi yang dirahasiakan tersebut, Zikri dan kelompoknya terkejut melihat gerbang dan halaman yang terlindungi di tengah-tengah desa tua yang berada di suatu pedesaan.

Satu tim penuh dengan anggota militer dan petugas polisi yang sedang menunggu kedatangan kami.

Arrifin punmemberikan sinyal kepada kelompoknya untuk membiarkan pemandu wisata tepercaya mereka, Andy yang menjadi juru bicara untuk menangani situasi tersebut.

"Kami menghindari berbicara satu sama lain sehingga mereka tidak akan salah mengerti niat kami. Kami tetap tenang, berusaha tersenyum, dan menghindari provokasi," tulis Zikri.

Zikri juga menuliskan, ia dan kelompoknya ditahan di kamar terkunci yang menyerupai penjara sambil menunggu Andy bernegosiasi dengan pihak berwenang.

Suara Andy yang memperjuangkan Zikri dan kelompoknya terdengar hingga ke telinga, namun terkadang keheningan panjang muncul dan ketegangan terasa saat terdengar salah satu kepala militer mengajukan pertanyaan yang terdengar kasar dan provokatif.

Setelah menunggu berjam-jam, seorang anggota militer yang tidak dikenal masuk dan meminta maaf, sedangkan personel militer yang menangkap Zikri, Arrifin dan lainnya di Masjid tidak terlihat.

Zikri juga menuliskan meskipun ia dan kelompoknya senang telah dibebaskan, namun mereka juga kecewa hak mereka untuk beribadah di Masjid ditolak.
Alasan mereka dibebaskan adalah karena salah satu anggota dari kelompok mereka seorang anggota media.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search