Bulog Impor Beras 1,8 Juta Ton, Cuma Terpakai 150 Ribu Ton

- Desember 09, 2019

Perum Bulog ditugaskan pemerintah untuk mengimpor beras hingga 1,8 juta ton pada tahun lalu. Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) menentang kebijakan itu. Ia berpendapat, impor beras terlalu banyak.

Kini sebagian besar beras yang diimpor Bulog itu masih menumpuk di gudang.

"Dulu kan saya waktu pertama kali menjabat, beras nggak akan impor saya tahan yang dulu, saya tolak impor kan, nah ramai kan. Terus orang pada nggak percaya, ini Pak Buwas ngarang-ngarang seolah-olah kan kita asbun, asal bunyi. Prediksi saya betul, buktinya hari ini kan kecil persentasenya beras impor yang terpakai, iya kan?" kata Buwas saat ditemui di Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (3/5).

Hanya 150 ribu ton beras impor yang tersalurkan. Beras impor umumnya kurang disukai masyarakat Indonesia karena rasanya beda.

"Dari 1,8 (juta ton) hanya tidak sampai 150 ribu yang dipakai. Itu pun kita distribusikan ke tempat-tempat tertentu. Beras impor kan pera, itu hanya untuk Kalimantan dan Sumatera, Padang. Kita hanya bisa ke situ, di luar itu tidak mau dan kita upayakan mix agar taste-nya bisa diterima masyarakat Indonesia," ucapnya.

Stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 2,1 juta ton. Stok tersebut terus bertambah karena Bulog menyerap beras dari petani. Di sisi lain, beras yang disalurkan minim karena harga sedang rendah, tak perlu operasi pasar. Untuk tahun ini, Buwas optimistis impor beras tak perlu dilakukan lagi.

"Sampai sekarang beras kita nggak keluar. Kita menyerap terus, jadi nambah-nambah. Karena sekarang kebutuhan beras di pasar melimpah, sekarang di Pasar Induk Cipinang kan melimpah, tidak mungkin disuplai lagi, di wilayah-wilayah semua sekarang lagi melimpah. Jadi Bulog tidak perlu operasi pasar sementara ini. Karena jumlahnya banyak," tutupnya.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search