Sumanto Al-Qurtuby, Mengapa Mengusik Muhammadiyah?

- Oktober 24, 2019
Sumanto Al Qurtubi seorang dosen sosiologi di salah satu Universitas di Saudi Arabia meluapkan kekecewaannya terkait tidak diakomodasinya NU dalam kabinet. Menurutnya yang ada sekarang di kabinet bukan representasi NU, namun PKB. Yang membuatnya paling kecewa adalah menag (Menteri Agama) bukan dari NU.

Tentu curhatan Sumanto bukanlah masalah, sah-sah saja berpendapat di negara demokrasi. Mau Sumanto ngamuk atau menangis memohon jatah menteri itu bukanlah urusan kami. Silahkan saja.

Kenapa Mengusik Muhammadiyah?

Hanya sebagai kader Muhammadiyah saya merasa perlu menanggapi beberapa pernyataan Sumanto yang mengusik terhadap Muhammadiyah. Di status Facebooknya, ia kecewa karena Menag yang tradisinya menjadi jatah NU, tetapi kini tidak menjadi jatah NU.

Pertanyaanya, NU yang tidak dapat Menag, kenapa tendensiusnya ke Muhammadiyah? Kecuali Menagnya dikasih ke Muhammadiyah. Bukankah Muhammadiyah juga biasanya selalu Mendikbud, tetapi kini tidak ditunjuk Presiden tetep biasa saja. Mengapa dalam status facebooknya yang viral dia sampai mengatakan:

Sumanto berpendapat bahwa Muhammadiyah berada dalam barisan yang sama dengan kelompok Islamis radikal dan tidak bisa berdalil melawan kelompok ini. Setelahnya Sumanto menyatakan bahwa hanya NU yang bisa berdalil dan melawan kelompok radikal. Benarkah begitu?


Sebelum menjawab pertanyaan utama yang jadi pertanyaan adalah kenapa harus menyinggung Muhammadiyah? Tentu hanya penulis yang tahu motifnya. Walau sebenarnya tulisan Sumanto tak akan kehilangan esensi sekalipun tidak menyebut Muhammadiyah. Apakah mungkin karena Muhammadiyah juga terlibat dalam kontestasi perebutan kursi menteri?

Asal tahu saja Muhammadiyah hanya dapat satu menteri, jauh dibanding NU yang rais aam nya menjadi wapres. Jadi sekali lagi, apa masalahnya dengan Muhammadiyah sampai anda mengusik kami?

Bahaya Generalisasi dan Tudingan Radikal

Mari kita jawab pertanyaan utama, sebagai seorang intelektual semestinya Sumanto terhindar dari generalisasi. Kalau ada kader Muhammadiyah terpapar paham radikal tidak bisa dipukul rata semua begitu. Lalu ukuran Islamis radikal menurut Sumanto itu apa?

Kalau yang dimaksud radikal adalah ingin mendirikan khilafah lalu menthagutkan pemerintah, Muhammadiyah sudah punya penangkalnya yakni konsep pancasila dan NKRI sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Kalau ada kader Muhammadiyah yang bandel jangan disalahkan Muhammadiyahnya donk. Seperti kalau ada santri pesantren yang ketahuan judi, jangan salahkan bahwa pesantrennya buruk. Itu santrinya saja yang tidak bisa diatur.

Kalau yang dimaksud radikal adalah berpenampilan cingkrang atau bercadar tunggu dulu. Penampilan itu bagian dari ekspresi keagamaan seseorang. Selama dia tidak menyalah-nyalahkan yang lain dia tidak radikal. Namun jika dia menganggap yang tidak sama penampilannya kurang beriman ini yang perlu diluruskan. Yang jelas Muhammadiyah tidak liberal yang mengatakan jilbab tidak wajib, juga tidak mengatakan isbal haram dan cadar sunnah.

Kalau yang dimaksud radikal adalah tidak memilih Jokowi pada pemilu lalu, nah ini pemahaman yang berbahaya. Jangan sampai ada stigmatisasi radikal bagi yang berbeda haluan politik. Kita tolak stigma radikal pada kasus ini.

Muhammadiyah memang tidak banyak tampil di media seperti NU soal radikalisme. Malahan Muhammadiyah punya kritik terhadap konsep deradikalisasi dan mengajukan konsep moderasi Islam. Namun bukan berarti Muhammadiyah diam dan tidak bergerak. Muhammadiyah berusaha menyelesaikan masalah tanpa masalah. Perjuangan seperti ini seringkali ditempuh dalam jalan sunyi tanpa hingar bingar pemberitaan.

Robby Karman
Sekjen DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
ibtimes
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search