Kenanganku dengan Takmir Masjid UGM yang Komit Hadirkan UAS Itu tak Berubah

- Oktober 09, 2019
Guru Kami, Pak Maschuri yang tak pernah berubah itu.

Suatu ketika, di tengah hampir keputusasaan menulis skripsi yang telah berlarut-larut lamanya di Departemen Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada itu, saya memberanikan diri untuk tetap menghadap Beliau, Pak Maschuri Maschab.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang ini, tak banyak komentar soal isi skripsiku kala itu. Hampir tiap kali bimbingan, yang Beliau sampaikan adalah nasihat, selayaknya seorang guru kepada muridnya.

Salah satu nasihat Beliau yang hingga kini insyaAlloh terinsyafi dalam diri ini dengan baik adalah,

“Watak dan Watuk (batuk) itu berbeda. Kalau Watuk, masih bisa disembuhkan, diubah. Kalau Watak sampai kapanpun tidak akan berubah,”

Bahkan, dari Beliau, saya mengenal istilah “Kemaki” dalam Bahasa Jawa.

Setiap kali, Beliau memberikan nasihat, setiap kali itu pula, saya menghampiri Masjid Kampus untuk sekadar salat dua rakaat, memohon ampun pada-Nya.

Kini, sudah bertahun-tahun, saya telah meninggalkan kampus. Dengar kiprah Beliau untuk tetap komitmen menghadirkan Ustaz UAS, hati ini rasanya ingin menangis. Mendoakan Beliau untuk tetap istiqomah

Karakter Beliau tidak ada yang berubah. Berpegang teguh akan kebenaran yang Beliau yakini. Sebagai anak didik, kami hanya bisa mengikuti. Insya Alloh, nasihat Beliau tetap kami pegang sepenuh hati.

Semoga Alloh senantiasa memberkahimu, Pak..


-- Ridwan Budiman, Alumnus UGM
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search