Cerita Emak-Emak Wamena yang Berani Menantang Kelompok Bersenjata

- Oktober 01, 2019

Nani Susongki merupakan satu dari sekian warga yang memilih mengungsi dari Kota Wamena pasca-demonstrasi yang diwarnai aksi amuk massa di ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua pada 23 September lalu.

Perempuan asal Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu mengaku selamat dari aksi di Kota Wamena beberapa pekan lalu karena pertolongan seorang masyarakat asli setempat yang biasa disapa Mama Manu. Letak rumah Mama Manu di Kota Wamena, tepat berada di belakang rumah Nani.

“Kalau kami sembunyi di Honai (rumah) Mama Manu. Kami disembunyikan di situ,” kata Nani Susongki pada Sabtu (28/9/2019), di Aula Lanud Jayapura yang dijadikan lokasi pengungsian sementara.

Perempuan paruh baya yang sudah 17 tahun merantau ke Wamena itu, menceritakan, sebelum aksi amuk massa terjadi di pusat Kota Wamena, sekitar pukul 07.30 WP, anak perempuannya yang bekerja di salah satu toko gadget, menelponnya. Mengingatkan agar Nani tidak keluar rumah.

Informasi pun menyebar jika daerah Homhom sudah terbakar. Situasi di dalam Kota Wamena mulai bergejolak. Nani bersama beberapa anggota keluarganya meninggalkan rumah. Menuju ke bagian belakang rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu tiga orang yang memegang senjata tajam.

“Kami mundur pelan-pelan. Saya pikir bagian dari orang yang rusuh, ternyata mereka menolong kami. Mereka suruh kami masuk ke rumah Mama Manu. Hampir satu jam kami bersembunyi tak bersuara, bersama beberapa warga lain,” ujar wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat itu.

.

Ketika Nani, keluarganya dan beberapa warga lain bersembunyi, sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi rumah Mama Manu. Pemilik rumah berupaya melindungi warga yang berada dalam rumahnya.

Katanya, Mama Manu juga meminta massa tidak membakar mobil yang sehari-harinya dijadikan mata pencaharian suami Nani.

“Mama Manu bilang tolong jangan dibakar. Itu saya punya anak. Jangan bakar mobil nanti merembet ke rumah saya. Akhirnya massa meninggalkan lokasi. Kami sendiri sudah lemas, seperti tidak bisa berdiri lagi,” ucapnya.

Ia mengaku tidak pernah menyangka Mama Manu nekad berhadapan dengan sekelompok orang bersenjata tajam untuk mempertahankan warga yang berlindung dalam rumahnya.

“Penduduk asli di sana, kalau kita baik sama mereka, pasti mereka juga baik sama kita,” katanya.

Setelah bersembunyi hampir satu jam, Nani Susongki dan beberapa warga yang berlindung di rumah Mama Manu dievakuasi polisi ke Polres Jawijaya. Setelah tiga hari di Polres, Nani bersama keluarganya memilih mengungsi ke Jayapura, dan berencana kembali ke kampung halaman.

“Mobilnya dan rumah kami tidak dibakar, akan tetapi hancur. Kami juga berterimakasih kepada AURI di Jayapura yang telah menampung kami dan memenuhi kebutuhan kami selama di sini,” ucapnya

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search