11 Tahun Usai Pertanyaan "“Yang Jadi Istrimu Nanti Harus Perempuan ya, Zal?"

- Oktober 11, 2019
Ini adalah kisah dari seorang teman yang memintaku untuk menuliskannya. Dia sangat berharap semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisahnya.

Untuk memudahkan dalam penulisan, aku menggunakan Point Of View (POV) alias sudut pandang orang pertama.

***

POV Rizal.

Pertengahan September, 2008.

Agak tergopoh aku berjalan masuk ke lorong Fakultas Sosial. Hari ini ada mata kuliah Antropologi di kelas lantai dua, dan sialnya aku telat. Tadi di perjalanan tiba-tiba ban motor bocor, membuatku harus menuntun motor sekira lima ratus meter untuk sampai di tukang tambal ban. Sambil menaiki anak tangga fakultas aku menatap jam di pergelangan tangan. Duh, sudah lima belas menit aku terlambat.

Dosen Antropologi terkenal disiplin, aku tidak berani menyebut ‘killer’. Telat 5 menit, boleh masuk kelas tapi tidak akan diceklist di daftar kehadiran. Bagi mahasiswa yang ‘bener’ ia memilih masuk, meski tidak diabsen lumayan dapat ilmu, tapi kebanyakan langsung balik ke kosan atau nongkrong di kantin, buat apa di kelas kalau tidak dipresensi? Yang penting itu presensinya kok. Karena tidak masuk tiga kali, alamat tak bisa ikut ujian semester. Ilmu mah, nomor sekian. Bahkan untuk hal ini, mahasiswa rela titip tanda tangan kehadiran ke teman, dianya sendiri bolos.

Akhirnya aku sampai di depan kelas. Nampak pintu sudah tertutup. Di dalam, samar-samar terdengar seorang lelaki paruh baya menerangkan sesuatu. Aku nekad mengetuk pintu sembari membuka pintu perlahan.

“Assalamualaikum,” aku mengangguk tatkala dosen tiba-tiba berhenti berbicara dan menoleh padaku.

“Waalaikumsalam,” jawab dosen dingin.

“Maaf, tadi ban saya bocor, Pak.”

“Sudah dua mahasiswa yang pakai alasan ban bocor, lain kali janjian dulu sama temanmu kalau mau alasan, biar gak sama. Silakan keluar.”

Ucapan dosen itu seketika membuat kelas riuh oleh tawa teman-teman. Aku nyengir getir, mundur teratur dan menutup pintu perlahan. Ah, padahal tadi beneran ban motorku bocor. Aku segera mencari tempat duduk di lorong lantai dua. Mengambil air yang kubawa dari rumah lalu meminumnya. Air itu membasahi tenggorokan yang kering. Segar.

“Kamu ikut kelas Antropologi, bukan?”

Tiba-tiba seseorang menyapaku. Saat aku mengangkat pandangan nampaklah lelaki yang rambutnya tersisir rapi dan tubuhnya agak gempal.

“Iya,” aku menimpali.

“Kenapa gak masuk?” ucapnya.



“Telat. Disuruh keluar.”

Dia tersenyum, “Hehe. Sama.”

Sebenarnya aku merasa ada yang aneh dari cara bicara lelaki ini. Karena meski tubuhnya besar, tapi cara sikapnya ‘girly’ banget.

“Boleh kenalan? Aku Fahmi.” Dia menjulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya, “Rizal. Kamu angkatan 2008 juga?”

“Iya. Loh, kita kan satu kelas di mata kuliah Antropologi?”

“Eh, iya kah? Aku gak tau, maaf, baru dua minggu kuliah. Jadi belum hafal betul sama teman kelas.”

“Gak masalah.” Dia kembali tersenyum.

Memang kuliah beda dengan sekolah. Karena mahasiswa nyari jadwal sendiri, berpindah-pindah kelas sesuai jadwal, dan jadwal mahasiswa satu dengan yang lain sering berbeda. Jadi aku tidak seberapa memperhatikan mahasiswa lain.

Lalu, kami mengobrol tentang dari mana berasal, tinggal di mana, dan topik lain sampai tak terasa bel tanda jam mata kuliah pertama usai. Aku dan Fahmi berpisah, karena harus lanjut kuliah jam kedua.

Teman, nanti awal perkenalanku dengan Fahmi ini akan begitu terekam kuat di memori otak setelah peristiwa memilukan itu terjadi… Dan sampai sekarang aku tidak menyangka, segala firasatku tentang dia benar-benar menjadi nyata.

***

Semester satu telah berlalu. Seusai liburan cukup panjang aku dan mahasiswa lain kembali masuk kuliah. Di satu mata kuliah ternyata aku satu kelas lagi dengan Fahmi. Cara bicara dan tingkahnya tak berubah. Tetap ‘girly’.

Suatu saat dosen memberi tugas lapangan kepada kami. Satu kelompok terdiri 6 mahasiswa. Qadarullah, aku satu kelompok dengan Fahmi. Saat itu kami harus mencari data terkait pemberdayaan perempuan di suatu desa. Kami memilih komunitas bantaran sungai sebagai tempat riset. Kami lakukan riset itu selama 4 minggu. Rencananya, tiap satu minggu kami hadir di lapangan sebanyak 2 kali. Surat izin dari pihak akademik dan RT setempat sudah kami pegang.

“Zal, aku gak punya motor. Boleh aku nebeng kamu ke lokasi riset?” Fahmi berucap padaku.

Aku mengangguk, “Oke.”

Hari Sabtu kami kumpul di kampus untuk berangkat bareng. Kami bawa tiga motor. Aku berboncengan sama Fahmi. Anehnya, saat Fahmi duduk di jok motorku, empat teman lain tiba-tiba berseru, “Cieee… Rizal dipepet Fahmi, ciyeee…”

Aku tak paham dengan apa yang mereka ‘ciye-ciyekan’. Tak ambil pusing, aku meminta teman-teman agar segera berangkat.

Di perjalanan menuju lokasi riset, aku dan Fahmi ngobrol ngalor-ngidul. Hingga pada suatu titik ia bertanya,

“Rizal sudah punya pacar?”

Sembari nyetir motor, aku jawab, “Belum.”

“Masa’ mahasiswa ganteng dan rajin kayak kamu belum punya pacar?”

Aku nyengir, “Belum waktunya mungkin, Mi. Nanti aja mikir cewek kalau udah lulus kuliah. Sekalian langsung nikah, biar enak.”

“Wah, selain ganteng sama rajin, kamu juga sholeh ya, Zal?”

“Biasa aja, Mi.”

“Beruntung banget yang bisa jadi pasanganmu nanti.” Lalu muncullah kalimat aneh itu, “Yang jadi istrimu nanti harus perempuan ya, Zal?”

Deg! Aku refleks menurunkan gas, berusaha mencerna baik-baik perkataannya.

“Gimana, Mi?” aku memastikan. Barangkali tadi salah dengar.

“Eh, gak kok. Sudah jangan dipikirin. Tuh, lokasi risetnya sudah dekat.” Fahmi menunjuk kea rah depan.

***

Tentang riset itu sudah berlalu beberapa bulan lalu. Alhamdulillah kami dapat nilai memuaskan. Tapi kejadian ketika aku membonceng Fahmi itu memiliki kepingan kisah lain. Dan untuk itulah aku mengisahkan ini pada kalian semua. Rela begadang, berfikir panjang, mengorbankan waktu tidur, agar semua dapat mengambil pelajaran.

Di suatu siang, sembari menunggu jam mata kuliah ketiga, aku berkumpul dengan mahasiswa sejurusan. Kongkow biasa. Ngobrol tak tentu arah. Dan hukum itu berlaku; bila anak cowok kumpul sama cowok, yang dibahas pasti cewek. Sebaliknya bila cewek kumpul sama cewek, yang diobrolin sangat pasti terkait cowok.

Itulah yang terjadi siang itu.

“Eh, si Laksmi itu cantik ternyata, ya?” ucap salah seorang teman.

Ditimpali sama yang lain, “Lebih cantik Rini tau. Laksmi mah judes.”

“Laksmi judesnya sama kamu doang. Soalnya kamu jelek.”

Kami tertawa.

“Eh, si Rizal tuh cocok loh ya sama Laksmi. Satunya ganteng, satunya cantik. Sama-sama pinter lagi,” timpal yang lain.

Loh, kenapa sekarang malah bawa-bawa namaku? Sebenarnya aku hendak protes, tapi keduluan oleh Fahmi yang seketika menyahut,

“Hey, enak aja. Aku duluan yang pingin jadi pacarnya Rizal. Jadi Laksmi minggir dulu, ya.” Gestur Fahmi genit sekali saat itu.

Aku terhenyak dengan perkataan Fahmi, tapi teman-teman malah tertawa mendengarnya.

“Ciyeee… kalau beneran mau jadi pacarnya Rizal, joget dulu hayo.” Begitu tantang Rudi, salah satu teman dekat Fahmi.

Tak disangka, Fahmi benar-benar berjoget. Berlenggak-lenggok macam penari ular. Beneran. Teman-teman kegirangan melihat hal tersebut. Goyangan Fahmi seketika terhenti ketika bel jam kuliah ke-3 berdering. Kami bubar, dan berjalan menuju kelas.

Tatkala aku bersiap menenteng tas, Rudi berbisik di telingaku, “Fahmi suka kamu, Zal.”

Saat itulah aku langsung berkesimpulan; ADA SESUATU YANG SALAH DALAM DIRI FAHMI!

***
Semua misteri ini akhirnya terjawab ketika kami praktek lapangan. Praktek lapangan ini berbeda dengan KKN. Kalau KKN pesertanya bisa dari berbagai jurusan dikumpulkan jadi satu kelompok, Praktek Lapangan hanya diikuti oleh satu jurusan saja. Satu jurusan dibagi 4 kelompok. Total satu kelompok ada 12 mahasiswa. Dan qadarullah aku satu kelompok lagi dengan Fahmi. Kami ditempatkan di satu desa di kaki gunung, selama satu bulan.

Di suatu malam, selesai makan dan mengumpulkan data lapangan. Kami terbiasa menghabiskan waktu dengan nonton film India di laptop, atau ngobrol. Beberapa yang lain sibuk nyari sinyal buat teleponan dengan pacar. Nah, tersisa 5 orang, termasuk aku dan Fahmi tak ada kegiatan. Hingga salah satu teman cewek, Rani, mengajak kami bikin mainan. Dia menyuruh kami segera duduk melingkar. Kami menurut.

“Ini ada botol,” ucap Rani, “Nanti aku putar botol ini. Dan kalau botolnya sudah berhenti berputar, kita lihat mengarah ke siapa bagian tutup botolnya. Orang yang berada persis di arah tutup botol, dia harus mau jawab dengan jujur sesuai pertanyaan. Paham?”

Kami mengangguk. Ini seperti permainan di salah satu adegan film “Mujhse Dosti Kagore”. Ternyata film India yang telah merasukimu, Kawan.

Rani memutar botol. Dan saat botol itu berhenti, kami mulai bertanya jawab. Pertanyaannya terserah. Entah yang lucu atau yang serius.

Hingga tibalah saat tutup botol itu mengarah pada Fahmi. Lalu Rani bertanya,

“Mi, jujur, sejak kapan kamu suka sama cowok?”

Pertanyaan itu membuat ruangan jadi hening seketika. Bagiku, itu pertanyaan yang tak terduga. Jadi benar selama ini Fahmi punya ‘penyakit’?

Lantas tanpa membuang waktu, Fahmi mengangguk. Lelaki besar itu pun berucap, “Benar.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kecil.”



Fahmi kemudian berkisah tentang dirinya. Entah bagaimana ceritanya, kelainan itu ada sejak ia masih duduk di kelas 2 SD. Ketika melihat ibunya berganti pakaian dan mengenakan –maaf- bra, ada rasa dalam dirinya ingin memakai juga. Waktu ibunya pergi ke pasar, diam-diam ia masuk ke kamar ibunya, mengambil bra dalam lemari, lantas membawanya ke kamar sendiri. Di dalam kamar ia memakai bra tersebut sembari berkaca. Kurang puas, ia masuk lagi ke kamar ibunya mengambil lipstick. Dioleskan lipstick tersebut di bibir, berkaca lagi. Kemudian ia berjalan lenggak-lenggok macam model perempuan di tivi.

Fahmi juga bercerita, dari kecil ia memang lebih suka main bersama anak cewek. Main masak-masakan, dandan-dandanan, gendong bayi dari boneka, dll. Ia merasa lebih nyaman kumpul dengan cewek. Dia senang jadi cewek. Hal itu membuat dia dibully di sekolah. Disebut banci serta bencong.

Dan yang paling membekas dalam hidupnya adalah ketika dia kelas 4 SD, seorang remaja lelaki SMP tak tau untung mengajaknya ke semak-semak dekat rumah. Lalu terjadilah peristiwa tersebut. Itulah pertama kali ia mendapatkan pelecehan seksual.

Perilaku Fahmi yang tak seperti anak laki-laki lain, membuat orang tuanya curiga. Pada suatu hari, kecurigaan itu pun menjelma nyata tatkala pada suatu siang, mereka mendapati Fahmi berdandan layaknya ibu-ibu. Ia memakai bra, daster, lipstick dan jepit rambut. Orang tua Fahmi sangat sabar. Ia tidak dimarahi hanya dinasehati kalau laki-laki tidak boleh berpakaian seperti itu.

Setelah lulus SD, Fahmi langsung didaftarkan ke pondok pesantren. Fahmi yakin, tujuan orang tua mendaftarkannya ke pesantren, agar ia bisa berubah, mendapat bekal agama yang baik.

Tapi perilaku Fahmi selama di pesantren tidak berubah. Malah, di sana ‘keanehan’ dia mendapat apresiasi dari teman-teman sekamar. Fahmi seperti botol yang ketemu tutup. Dulu, ia sembunyi-sembunyi ketika ingin berdandan ala perempuan. Sekarang teman-temannya malah yang memfasilitasi. Entah dari mana, teman-teman sekamar Fahmi memberinya daster dan lipstick, jika waktu istirahat tiba, Fahmi disuruh memakai semua perabotan cewek itu. Teman-temannya tertawa, Fahmi pun senang.

“Percaya atau tidak,” begitu ucap Fahmi, “Di pondok aku juga pernah mengalami pelecehan. Sama seperti yang aku alami saat SD. Yang ngelakuin ya kakak kelasku.”

Kami menutup mulut. Benar-benar tak menyangka. Bahkan di lingkungan pesantren pun ada oknum santri yang seperti itu.

Seusai menuntaskan sekolah Aliyah, Fahmi memutuskan kuliah. Kuliah tempat dia saat ini.

“Selama kuliah kamu suka cowok di kelas ndak, Mi?” Rani kembali bertanya. Semangat betul dia mengorek sisi pribadi Fahmi.

Yang ditanya mengangguk.

“Siapa?”

“Rizal.”

Bibir langsung mengucap istighfar saat namaku disebut.

“Mi,” aku segera menanggapi, “Eh, maaf, apa kamu sadar kalau perilakumu itu menyimpang?”

Fahmi mengangguk lagi dan berucap lirih. “Tapi aku benar-benar gak ngerti kenapa aku punya perasaan seperti ini.”

“Tapi jujur,” Rudi sekarang menimpali, “Apakah kamu punya keinginan pada perempuan.”

“Ndak punya. Tapi aku ingin sembuh. Aku ingin kayak laki-laki normal. Menikah dan punya anak. Tapi di mana aku mengadu? Di mana aku harus curhat? Aku gak tau. Karena setiap aku cerita begini, pasti dianggap lucu-lucuan. Atau yang paling parah dianggap aib.”

Saat itu. Kami semua tak bisa berkata apa pun.

***

Mei 2019…

Tujuh tahun sudah aku meninggalkan kampus dengan membawa gelar sarjana sosial. Dua tahun setelah wisuda, aku menikah. Dan kini telah dikaruniai seorang anak lelaki.

Pada suatu sore, aku membaca pesan di grup WA alumni, dari Rani,

[Teman-teman, gak adakah yang mau jenguk Fahmi? InsyaAllah selasa aku sama suami mau jenguk. Barangkali ada yang mau bareng.]

Aku segera mengetik balasan, [Fahmi sakit apa, Ran?]

[TBC.] Rani jawab singkat.

Dibalas sama alumni lain, [Padahal Fahmi gak pernah merokok, loh, ya?]

[Ayo siapa yang mau ikut? Kita bisa bareng.] Rani tak menjawab pertanyaan terakhir.

[Ran,] ketikku, [maaf aku gak bisa ikut ke rumah Fahmi. Ada kerjaan, ngisi raport online siswa. Nanti kalau sudah sampai di rumah Fahmi, aku mau video call.]

[Oke, Zal.]

Persis sepulang dari sholat isya’, Rani WA aku, [Zal, ini aku sudah di rumah Fahmi. Mau video call?]

Aku balas cepat, [Mau.]

Lalu Rani ngevideo call aku, tak lama kemudian hapenya dipegang Fahmi.

[Assalamualaikum, Rizal.]

Ya Allah, lihatlah, tubuh Fahmi nampak kurus sekali. Mukanya yang dulu tembem sekarang jadi tirus. Mataku langsung berembun melihat kondisinya.

[Eh, waalaikumsalam, Fahmi. Gimana keadaannya?]

[Alhamdulillah enakan. Kamu gimana? Katanya sudah jadi guru?]

Aku mengangguk.

[Sudah berapa anakmu, Zal?] tanyanya.

[Baru satu.]

Percakapan kami tersendat karena sinyal yang kurang bagus.

[Zal, aku minta maaf kalau punya banyak salah, ya?]

[Kamu gak punya salah apa-apa ke aku. Lekas sembuh ya.]

[Aamiin. Makasih, Rizal.]

Sesi video call kami benar-benar terhenti setelah itu.

Dan ternyata, itulah terakhir kalinya aku berbicara dan menatap wajah Fahmi.

Sebab, dua hari berselang aku mendapat kabar bahwa Fahmi dilarikan ke rumah sakit umum daerah. Statusnya kritis. Itu berita yang tersebar di grup pada siang hari. Dan di subuh sehari setelahnya, Rani memberi kabar di grup,

[Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal teman kita Fahmi Hamid, pukul 02.30 dini hari tadi. Mohon doanya semoga Allah mengampuni beliau dan menerima segala amal kebaikannya.]

Pesan itu menghentak kalbu. Ya Allah. Batas usia hamba hanya Engkau yang tau. Tapi mohon, berikan hamba kematian yang husnul khotimah.

[Ran, kapan dikuburkan?] tanyaku di grup.

[Kata keluarga segera.]

[Oke, aku hari ini izin libur ngajar. Mau ke sana.]

Karena harus memandikan si kecil, dan beres-beres aku baru bisa berangkat pukul 06.30 wib. Kalau lancar, aku akan sampai di rumah duka sejam kemudian, mengingat jarak yang cukup jauh. Di tengah perjalanan, terdengar suara dering hape tanda ada pesan WA masuk. Aku membuka pesan itu ketika berada di lampu merah.

Ternyata itu pesan dari Rani. Dia mengirim foto satu petak makam penuh bunga, tak lupa diberi caption, “Selamat Jalan Kawan.”

Aku merasa ada yang ganjil. Seolah pemakaman Fahmi diburu-buru. Seperti tak mau ada orang tahu pemakamannya. Bahkan nampak di foto hanya segelintir orang yang datang menguburkannya. Segera aku menepi dan menjapri Rani.

[Ran, maaf kalau dirasa lancang. Sebenarnya Fahmi sakit apa?]

Pesanku terbalas segera, [Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya?]

[Iya.]

[Fahmi positif HIV.]

Allahu Akbar! Aku benar-benar tak menyangka akan hal ini.

Lalu tanpa diminta Rani menjelaskan,

[Enam bulan lalu, Fahmi pernah bercerita kalau dia ‘main’ sama anak Jawa Barat. Nah, dia yakin kalau anak itu yang nularin, karena ‘itu’ nya bernanah waktu dimasukin.]

Aku membaca pesan itu dengan menahan mual.

[Aku dikasih tau dokternya waktu nemenin keluarga si Fahmi. Ibunya malu, Zal. Makanya ngarang kalau Fahmi kena TBC. Jasad Fahmi itu ditreatment khusus. Soalnya bisa nular. Itu sebabnya pemakamannya dibuat cepet, gak nunggu keluarga yang dari luar kota dulu.]

Sumpah, aku seperti tak bisa bernafas membaca penjelasan Rani. Tak menyangka Fahmi melakukan hal sejauh itu. Ya Allah, mohon lindungi semua dari perbuatan yang membuat-Mu murka.

***

Epilog

POV Penulis

“Gitu ceritanya, Fit.” Rizal menjelaskan semua kronologis kisah temannya padaku, “Minta tolong tuliskan kisah ini, ya. Aku gak pandai merangkai kata sepertimu. Semoga setelah ini banyak orang yang sadar betapa bahayanya perbuatan eljibiti itu.”

Aku mengangguk lemah. Mendengar kisahnya membuatku begidik ngeri. Tak sampai terfikir ada orang yang melakukan hal keji itu. Bahkan teman dekat sendiri.

“Makanya, aku sebel banget, Fit, Kalau ada orang yang memaklumi perilaku eljibiti dengan alasan hak asasi manusia. Dia bisa ngomong kayak gitu karena gak kena ke keluarganya sendiri. Coba kalau anaknya yang kena HIV, apa masih bisa dia bicara hak asasi? Dosa dari perbuatan itu emang hakmu, tapi akibatnya bisa sekampung kena. Jasad Fahmi dikasih penanganan khusus, dibungkus rapat, supaya tidak ada cairan dari tubuhnya yang jatuh dan kena orang lain, bisa nular. Bahkan yang memandikan jasadnya pun harus pakai baju khusus. Ngeri, Fit. Sumpah.”

“Kalau menurutmu apa ya, Zal, langkah untuk meminimalisir hal ini?” aku bertanya. Sebagai sesama rekan guru, aku mengenal betul Rizal orangnya pemikir dan suka baca. InsyaAllah aku akan dapat jawaban yang memuaskan darinya.

“Menurutku, pertama, kita harus peduli. Ketika melihat ada saudara atau kerabat yang terindikasi penyakit eljibiti itu, maka langkah pertama kita harus dekati dia. Didekati agar mau disembuhkan alias direhab. Itulah salahku pada Fahmi. Saat mengetahui dia punya kelainan, aku malah menjauhi dia. Bahkan tak pernah kontak setelah lulus kuliah, akhirnya dia memilih jalan yang ia anggap benar, padahal jalan itulah yang membuat celaka. Nah, sayangnya, para ‘penderita’ kelainan ini malu untuk ‘berobat’, karena dianggapnya aib. Kalau orang kena penyakit lain segera ke dokter, tanpa malu. Tapi kalau sakit yang ini mana ada pasien yang rela datang berobat? Padahal penyakit ini juga tak kalah ngeri akibatnya. Itu sebabnya harus didampingi, terutama keluarga, didampingi sampai sembuh.”

Aku masih mendengarkan.

“Kedua, penyebab kelainan ini tak pernah bisa tuntas adalah, karena selalu ditutup-tutupi. Ini seperti fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan hanya sebagian kecil saja, yang tak kelihatan itu yang malah luar biasa banyak. Faktanya, jika anggota keluarga kena HIV akibat dari perilaku menyimpang itu, mereka akan bilang anaknya kena TBC. Malu, itu wajar. Tapi akibatnya adalah bahwa perilaku menyimpang itu dianggap tidak bahaya oleh orang lain. Padahal bahayanya luar biasa. Aku salut banget sama keluarga yang terus terang pada orang lain bahwa anaknya kena HIV akibat kelakuan menyimpang. Akhirnya orang pada hati-hati. “

“Dan ketiga, selain kuatkan doa serta pendidikan seksual pada anak, kita juga harus STOP tayangan orang-orang yang berlagak banci. Meski hanya sekedar lucu-lucuan. Kalau lagi nonton tivi ada adegan orang banci, langsung matikan. Kalau di kampung diadakan lomba bapak-bapak pakai daster, pakai lipstick, segera usul ke RT agar dibatalkan. Diganti lomba lain. Banyak lomba lain yang lebih seru dan lucu ketimbang pakai pakaian yang tak wajar. Bukankah Rasul melaknat orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita? Kita tidak sadar, bahwa pemakluman terhadap laki-laki yang memakai baju perempuan, bisa membuat warga jadi menganggap remeh tentang eljibiti ini. Kita tak pernah tau bahwa tawa kita melihat bapak-bapak pakai baju perempuan bisa berakibat tangisan tak berujung.”

Aku kembali mengangguk, dan berjanji akan menuliskan pengalaman sahabatku ini nanti.

****

Surabaya, 11 Oktober 2019
02.35 wib

Fitrah Ilhami

--
Mohon maaf bila banyak typo dalam tulisan ini, karena selain diposting tanpa editing, tulisan ini diketik dengan keadaan menahan kantuk. Sebab hanya di waktu dini hari lah aku baru sempat nulis.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search