The Sampah

- September 18, 2019

Oleh: Abu Hamzah Asadullah

Dunia memang sudah tua. Ciri-ciri akhir zaman semakin nampak nyata di depan mata. Sebelumnya, ada disertasi sampah seorang doktor yang mencoba halalkan perzinaan. Dengan dalih penelitian ilmiah, hubungan seks di luar nikah dianggap boleh karena konsep milk al yamin. Disertasi sampah melahirkan doktor sampah karena berada di Universitas yang rektornya Professor sampah.

Kali ini ada sampah lain. Jagad maya Indonesia ramai membicarakan film berjudul THE SANTRI. Polemik film ini sudah berlangsung sejak proses syuting yang melibatkan anak dari seorang ustadz kondang. Saat trailer filmnya tersebar di media sosial, responnya makin banyak. Beberapa hari bahkan hashtag boikot film the santri sempat trending topik di twitter.

Adegan-adegan dalam film THE SANTRI lebih layak disebut sampah dari pada sebuah karya. Sebab, aroma liberalisme menusuk hidung saat melihat cuplikan trailernya. Mulai dari aktivitas ikhtilat (campurbaur laki-laki dan perempuan), khalwat (berduaan) hingga adegan membawakan tumpeng ke dalam gereja. Ueekk...

Yang menyedihkan, film ini berlatar tempat pesantren. Tempat dimana ilmu agama (baca: Islam) dipelajari oleh generasi muslim. Namun dalam film tersebut seolah menggambarkan bahwa virus liberalisme dan pluralisme masuk ke dalam pesantren. Kalau ada dalam dunia nyata pesantren sebagaimana dalam film THE SANTRI maka layak disebut Pesantren sampah.

Padahal semua orang tahu, di dalam pesantren, aktivitas laki-laki dan perempuan itu terpisah. Jangankan mau komunikasi, hape saja tak boleh ada. Jika ketahuan berkirim surat, rambut kepala jadi gantinya. Bahkan bisa dikeluarkan dari asrama. Sementara itu, toleransi artinya membiarkan bukan dengan ikut-ikutan dengan hadir dalam rumah ibadah mereka.

Tak aneh, sebab film sampah itu disutradarai oleh seorang yang tak kenal mandi junub. Jadi, wajar jika tak kenal Islam. Yang aneh, ada sebuah ormas Islam yang katanya aswaja, mendukung bahkan megajak masyarakat menonton film sampah tersebut. Mereka mengklaim bahwa film THE SANTRI mencerminkan Islam yang ramah, toleran dan tidak radikal. Ueekk...

Namanya sampah, hanya membuat ingin muntah. So, sebelum anda muntah-muntah, disarankan untuk tidak menonton film ini. Layaknya sampah, sebaiknya film ini dikubur atau dibakar agar tidak didaur ulang.[AR]


Bumi Allah,
Rabu, 18 Sept 2019
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search