Saat Aku Mendengar Nyanyian Kebaktian dari Samping Rumah

- September 20, 2019
Saya berhijab, tetangga saya bersalib. Selama 20 tahun hidup berdampingan, sudah tak terhitung lagi berapa kali kasus "lompat pagar" terjadi di antara kami.

Ketika keluarga saya pindah ke kompleks ini 20 tahun yang lalu, tante Rini sudah sekitar tiga tahun lebih awal mendiami rumah sebelah yang berbagi tembok dengan kami. Keluarga beliau merupakan umat nasrani yang taat, asli Yogyakarta.

Hari kedua tercatat sebagai penghuni baru, saya dan bunda mengunjungi keluarga beliau dalam rangka berkenalan. Setelah basa-basi singkat sambil saling menyebutkan nama, bunda mengangsurkan macaroni schotel buatannya, yang disajikan di pinggan Pyrex.

"Aduh, Ibu. Matur sembah suwun, repot-repot bawa bingkisan segala." Matanya yang berbinar, sejenak ragu saat bunda meminta pinggannya kembali saat itu juga. "Ngg ... maaf ya, Bu. Kalau saya salin tanpa mencuci pinggannya, Ibu keberatan?"

Saya dan bunda langsung paham. Si tante tidak ingin menimbulkan kebimbangan di benak tetangga barunya yang muslim, jika beliau mencuci pinggan tersebut dengan spons cuci yang juga digunakan untuk membersihkan peralatan masak mereka.


Bertahun-tahun yang lalu masih saya ingat jelas, Ayu--putri bungsu keluarga tersebut--terdengar mendendangkan lagu "Tombo Ati". Berhari-hari balita cantik itu mengulang kelima obat hati yang disebutkan Opick dalam lagunya tersebut.

Saat kami sedang merapikan taman samping, tante Rini dan Ayu menghampiri lewat tembok pembatas setinggi dada yang memisahkan kedua rumah kami.

"Bunda, ini Ayu pengen banget tau. Kenapa lima perkara yang disebut dalam lagu Tombo Ati, kok, bisa jadi obat hati, sih? Ngapunten, ini, kan, lagu islami. Jadi tak suruh Ayu tanya ke Bunda, boleh ya?"

Walau sungguh tak menyangka, dengan senang hati bunda menjelaskan satu persatu pada si kecil. Tak ada interupsi atau kekhawatiran sedikitpun dari sang mama yang berprofesi sebagai seorang guru di salah satu sekolah Nasrani di kota kami itu.

Tak lain karena bu guru paham, inilah praktek toleransi sesungguhnya yang dibutuhkan Ayu sebagai bekal hidup.


Kali lain, pintu kamar saya digeruduk bunda penuh napsu. "Adeeekk ...! Kecilkan volume tape-nyaaa ...! Tante Rini sedang kebaktian, jangan berisik!"

Mohon koreksi bila keliru. Yang saya sebut kebaktian adalah menyenandungkan doa dalam lagu-lagu rohani. Acara ini rutin digelar rumah sebelah setiap bulan. Jemaahnya ramai sekali, bisa sampai puluhan orang.

Masalahnya, rumah saya yang di posisi sudut menghadap ke utara, sedangkan rumah tante Rini yang berada di punggung rumah saya menghadap ke barat. Seringkali kami baru 'ngeh' kalau ada kebaktian, ketika mulai terdengar nyanyian puja puji.

Saat itu saya masih gadis, penggemar musik hard rock pula, plus suka lupa daratan kalau olah vokal mendiang Chester Bennington ternyata bisa didengar hingga Kutub Utara. Tak ayal pintu kamar saya jadi korban dibedug bunda setiap bulan. Bikin malu saja!

Kalau ada acara keluarga digelar di rumah, satu set rantang ukuran jumbo selalu bunda siapkan untuk keluarga sebelah. As always, si rantang jumbo kembali dari perantauan tanpa dicuci. No problemo.

Sebaliknya, kalau rumah sebelah yang menggelar acara, sore atau malamnya muncul bontotan berupa nasi kotak dari rumah makan Padang, atau kue-kue yang masih utuh di dalam box-nya, keluaran bakeri ternama. Tante Rini selalu istiqomah menunjukkan logo halal sebelum mengangsurkan tiap bontotannya.

Bertahun-tahun, rantang jumbo dan bontotan halal ini saling "lompat pagar" tak kenal lelah. So lovely!


Tahun ke-empat tinggal di sini, bunda berpulang ke hadirat Allah. Sambil menahan air mata, saya memanggil tante Rini lewat pagar tembok samping. Beliau adalah orang paling pertama--di luar keluarga--yang saya beri tahu perihal berita duka ini.

Tembok itu seakan-akan menghilang, saat saya seketika sudah direngkuh dalam dekapannya. Beliau dengan penuh sabar dan sayang, menenangkan hingga tangisan saya reda.

Setengah jam kemudian, beliau sekeluarga datang melayat. Ketiga putra putrinya menenteng berkotak-kotak brownies Am**da, berbungkus-bungkus tisu dan beberapa karton air mineral untuk saya suguhkan pada pelayat lainnya.

Kepergian bunda yang sangat mendadak, jelas membuat keluarga kami kelimpungan, tak sempat berpikir untuk menyediakan sajian untuk tamu segala. Pengertian dan perhatian spontan dari keluarga sebelah, tak akan terlupakan seumur hidup saya.

Benar-benar aksi lompat pagar yang sungguh indah. Pertolongan tulus yang hadir tanpa merasa mengusik agama dan iman masing-masing. Yang ada hanyalah "Mereka tetangga, mereka saudara."

Sebenarnya masih banyak lagi kasus "lompat pagar" di antara kami. 20 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin persahabatan.

Minggu lalu adalah minggu terakhir saya berpredikat sebagai tetangga keluarga nasrani itu. Saya pindah ke kompleks lain yang penghuninya 99% warga muslim.

Saat saya berpamitan pada tante Rini, sulit sekali rasanya melepaskan pelukan. Saling bertukar pesan, "Selamat berpisah, jaga diri baik-baik, I'm gonna miss you so much ...." dalam tawa dan air mata.

Saya berhijab, tetangga saya bersalib. 20 tahun kami saling menjaga dalam kondisi lintas agama dan kepercayaan, tanpa mengusik agama dan kepercayaan masing-masing sama sekali.

Damai itu memang indah ....

Tabarakallah
- Cut Cynthia Sativa -
Advertisement

1 komentar:

avatar

Ya tetap aja waspada...


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search