Korban tanpa Nama

- September 20, 2019
Lasmayani Zega tampak masih tak kuat menopang dirinya sendiri. Di rumah kayunya yang disekat menjadi tiga bagian, sekira setengah jam dari pusat Kota Pekanbaru, ia sesenggukan dan sesekali berteriak histeris dalam bahasa ibunya.

Kain bergambar ia gunakan untuk mengusap airmatanya yang tak mau berhenti mengucur. Belum lama. Kain masih ia gunakan menggendong bayi pertamanya yang baru lahir empat hari lalu. Bayi laki-laki yang belum sempat diberi nama itu berpulang di tengah kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menguar di Pekanbaru sejak beberapa bulan lalu.

Kediaman Lasmayani Zega dan suaminya Evan Zendrato di tepian Jalan Lintas Timur, Kulim, Pekanbaru tidak mudah dijangkau. Jalan menuju rumah petak pasangan muda itu masih dari tanah dan harus melintasi pabrik pengepulan sampah. Pabrik tempat biasanya Evan mengepak sampah.

Tak jauh di belakang rumah itu, hutan dan kebun sawit luas terkembang. Saat Republika mengunjungi rumah itu pada Kamis (19/9) asap masih membumbung dari hutan tersebut. Serangkai dengan kebakaran-kebakaran hutan dan lahan lain yang terjadi di seantero Riau. Beribu-ribu titik api.

Kedukaan terasa betul di rumah tersebut. Evan tak henti mengusap wajah anaknya yang sudah tiada. Ia juga menangis, berusaha menahan diri dan berteriak histeris sembari melakukan ritual keagamaan Kristiani untuk anak yang terlalu lekas.

Ean berkisah anaknya lahir dalam keadaan normal dan sehat pada Senin (16/9/2019). "Anak dan istri saya normal waktu lahiran kemarin. Keduanya dinyatakan sehat oleh bidan," ujarnya. Bayinya lahir dengan berat 2,8 kilogram dan panjang 49 sentimeter.

Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru juga mencatat bayi itu lahir spontan dan menangis dengan kencang, menandakan kesehatannya. Umur kehamilan juga sudah cukup untuk melahirkan dan kondisi bayi selama pemeriksaan kehamilan juga sehat.

Setelah lahir, keesokan harinya buah hati dan istrinya dibawa pulang ke rumah. Namun kebahagiaan pasangan itu tak lama. Masalah mulai muncul ketika kabut asap pekat melanda Kota Pekanbaru hingga level berbahaya.

Saat di rumah dia mengatakan anaknya mulai batuk dan demam hingga mencapai 40 derajat Celsius pada Selasa malam (17/9). Evan mengatakan dirinya tidak bisa tidur pada malam itu karena anaknya terus merengek menangis, sementara asap pekat. Kondisi rumah keluarga tersebut berupa rumah kayu tanpa ada alat pendingin udara (AC).

Keesokan paginya, Evan menghubungi bidan untuk menangani bayinya. Dia mengemukakan bidan sempat memberikan obat penurun panas serta kompres. Upaya itu membuahkan hasil. Demam anaknya turun.

Akan tetapi kondisi bayinya kembali memburuk sehari setelahnya. Kondisi bayi sempat terlihat bibirnya menghitam serta demam panas. Bahkan saat diukur suhu tubuh anaknya mencapai 41 derajat celsius. Selain itu anaknya juga batuk dan pilek. Evan kembali memanggil bidan untuk memberikan penanganan medis.

Setelah diperiksa, bidan pun meminta agar bayi tersebut dirujuk ke Rumah Sakit Syafira, yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Jarak rumah korban ke rumah sakit tersebut 40 menit lamanya. Saat di perjalanan itulah anaknya meninggal dunia. Meski telah meninggal, Evan tetap membawa bayinya ke rumah sakit.

"Kami terus berjalan sampai RS Syafira ditangani dokter sana. Sekitar lima menit, ujungnya tak bisa diselamatkan," ujarnya.

"Dokter bilang, anak saya terdampak virus asap kabut asap," ujar Evan. Ia tak bersedia banyak komentar setelah itu. "Capek saya..." (*)




*Dikutip dari koran Republika, Jumat (20/9/2019)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search