Skor Telak 5-0 untuk Anies Baswedan

- Agustus 01, 2019
Oleh: Setiawan Budi

Pertama soal bambu, ingin jatuhkan Anies ternyata gak berhasil. Justru dari masalah bambu muncul dukungan luar biasa ada diri Anies.

Skor 1-0 untuk Anies

Kedua, peminat Rumah DP 0 rupiah ternyata bukan hanya dari kalangan menengah ke bawah. Ada juga dari kalangan menengah ke atas. Dan pemberitaan itu di goreng oleh pendukung ahok setelah ada penampakan peminat memiliki kendaraan mewah. Padahal, mereka yang ketahuan memiliki kelas di atas, tidak akan lolos seleksi.

Skor 2-0 untuk Anies

Seorang pendukung ahok upload sebuah sungai yang di penuhi enceng gondok. Bertanya kinerja Anies karena sungai yang di penuhi tanaman eceng gondok. Postingan pendukung ini di share ratusan orang dengan caption makian dan juga hinaan pada Anies.

Setelah di cek, di temukan bahwa foto yg di upload adalah sebuah sungai di Brazil. sedangkan penanganan enceng gondok di sungai di DKI selalu di lakukan berkala dan setiap musim hujan, pembersihannya setiap hari. Di lakukan oleh pasukan orange.

Skor 3-0 untuk Anies.

Lelah dengan mengutip dan mengambil berita yg gak jelas, pendukung ahok mencoba peruntungan dengan membandingkan Anies dan Risma walikota surabaya. Pertama, mereka membadingka keberhasilan Risma menyelamatkan aset pemda surabaya. Dan bertanya, Anies bisa apa dengan aset DKI?

Mereka lupa, 2 tahun berturut-turut Anies dapatkan hasil WTP di mana hasil itu tidak pernah di capai oleh Jokowi Ahok. Hasil WTP karena keberhasilan Anies dalam menata aset DKI yang kacau saat era Jokowi dan Ahok. Ada piutang sewa yang tidak tertagih, ada aset yang di kuasai pihak ke-3 tanpa kejelasan, serta yang paling unik, pemerintah provinsi DKI membeli tanah milik sendiri. Tanah Cengkareng.

Tanah Cengkareng sudah kembali ke DKI setelah melalui proses hukum. Melalui MA, tanah itu sudah menjadi milik DKI kembali di era Anies Baswedan.

Jika Risma mampu selamatkan aset, di DKI bukan Anies yang bekerja. Melainkan seorang lurah saja. Lurah Kramatjati selamatkan aset DKI bernilai ratusan milyar. Sebuah tanah yang sudah lama di kuasi pihak ke-3, sejak lurah Kramatjati masuk tahun 2015, ia mengajukan PK untuk meminta tanah itu di periksa kembali berdasarkan bukti kepemilikan.



Akhirnya, tahun 2018 putusan sidang menghasilkan berita tanah itu kembali ke DKI.

Apakah layak seorang lurah DKI saja yang di bandingkan dengan Risma? Belum walikotanya, apalagi gubernurnya.

Skor 4-0 untuk anies.

Masalah polusi udara di di jadikan tema.

Sebuah kelucuan, DKI provinsi di bandingkan dengan Surabaya sebuah kota di dalam provinsi. Not Apple to Apple, yang ada jadi terong to wortel.

Jumlah kendaraan di DKI mencapai 18 juta unit, lebih banyak dari jumlah penduduk DKI yang hanya 11 juta-an. Polusi udara selain di sebabkan oleh asap knalpot kendaraan, juga di karenakan dari PLTU batubara yang ada 10 jumlahnya di DKI. Sedangkan di Surabaya, jumlah kendaran hanya ada 6 juta saja. Dengan jumlah kendaraan itu bisa di ambil kesimpulan kalau Surabaya belum menahan sesak seperti DKI.

Terlalu dungu apabila wilayah Surabaya di samakan dengan DKI.

Gak mau Nerima kekalahan, ramai2 mereka upload sebuah video di mana Risma kaget saat mengetahui anggaran pengelolaan sampah DKI mencapai 3,7 Triliun. Dan membandingkan, Surabaya hanya anggarkan dana 30 M saja.

Pendukung ahok langsung bereaksi melihat video itu. Menganggap risma lebih hebat dari pada Anies.

Pengelolaan sampah di Surabaya memang paling TOP. Karena mereka sudah melakukan pembangunan sistemnya di mulai dari tahun 2012. Tahun 2016, pengelolaan ini di integrasikan ke pengadaan pupuk yang bisa menambah penghasilan warganya. Dan warga Surabaya sendiri memiliki Bank sampah di sekitar lingkungan mereka. Membuang sampah malah dapat duit, begitu kata mereka.

Sedangkan DKI, keberadaan dana 3,7 T itu bukan buat pengelolaan berjalan, melainkan untuk membangun sistim pengelolaan sampah yang bernama ITF. Di mana nantinya hasil pengolahan sampah akan menjadi energi listrik. Anies menjadi gubernur satu2nya yang membuat pengelolaan sampah yang berintegrasi degan pengadaan listrik.

Ilustrasinya seperti membangun rumah dan merawat rumah. Pastinya, biaya membangun lebih besar dari pada biaya merawat. Anies membangun, maka wajar apabila dananya besar. Sedangkan Risma, hanya menjalankan sistem yang sudah ada, bukan membangun. Melainkan merawat nya.

Sebelumnya, tahun 2018 anggran APBD DKI untuk sampah yang masuk ke dalam LKH hanya 384M untuk pengelolaan sampah yang di buang ke Bantar gebang Bekasi.

Tumpukan sampah di DKI setiap hari ada 7000-9000 ton banyaknya. Sedangkan Surabaya, hanya 1000-1600 ton saja. Belum lagi DKI harus memberikan insentif pada Bekasi, karena mau menerima xspor sampah dari DKI. Dengan dana 384M pengelolaan sampah berkala, sampah yang menggunung dengan ribuan ton/hari dan pemberian insentif pada Bekasi, rasanya jumlah itu sesuai untuk kota sebesar DKI di mana pembandingnya bukan Surabaya.

Skor 5-0 untuk Anies

Lucu kalau memaksakan Risma bertarung dengan Anies. Bukan level Anies jika pembandingnya hanya sebuah kota di wilayah provinsi.

Kenapa bukan Khofifah saja? Kenapa bukan RK? Kenapa juga bukan Ganjar?

Khofifah sedang tersandung masalah jual beli jabatan di Kemenag. RK sibuk dengan jumlah pengangguran yang meningkat dan bandara Kertajati yang sepi peminat. Sedangkan Ganjar, untuk membangun jamban warganya saja, harus meminta arisan di berdayakan.

Membawa nama mereka ke depan Anies, malah bisa jadi bulan-bulanan. Paham kan kenapa Risma Yan di paksa maju.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search