Sepotong Foto Enzo

- Agustus 08, 2019
Perancis bersama Panglima TNI. Sebagian besar netizen memuji kemampuan bahasanya, sebagian lagi kesengsem dengan tampang bulenya, maklumlah ya orang Indonesia, apalagi netijah-netijah kita. Aku pun sepintas saja melihat cuplikannya, malah justru salah fokus ke Panglima TNI-nya, lah pinter juga cas cis cus Perancisnya bapak ini. Salute.

Lalu, ketenaran itu berlanjut hingga masuknya ia ke berbagai berita media nasional. Kalau sudah seperti itu, pasti ada berita positifnya, dan ada juga berita 'negatifnya'. Sisi pribadi Enzo coba dikuak, siapa ia sebenarnya, hingga bagaimana keluarganya. Entah siapa yg memulai, tersebarlah fotonya dengan Bendera Tauhid menempel di punggungnya. Apa yg kemudian respons selanjutnya yg muncul di publik?

"Enzo Simpatisan HTI, Enzo Terpapar Radikalisme."

Aku tidak sedang membela Enzo. Tapi ayo kita sadar apa yg terjadi dengan 'kawan-kawan' kita diseberang sana. Kegigihannya mencari, menyebarkan, dan melabeli setiap apa yang mereka tidak suka. Mereka menjadi tak peduli dengan masa depan seseorang ketika orang itu beratribut sesuatu yg haram dipakai menurut persepsinya. Enzo, masih muda, sedang meniti cita-citanya, tak luput jadi objek kebencian juga. Hanya bermodal sepotong foto, tak menerangkan apa-apa, tak mengakui apa-apa dan tak bersuara apa-apa. Lucu? Sangat! Hendak mau berkata bodoh, tapi aku tak tega! Ya udah, lucu saja.

Enzo, tak perlu dibela. Karena aku percaya TNI dan sistemnya hanya memilih para prajurit terbaiknya. Sosok-sosok patriot yg tak diragukan kecintaannya pada negara kesatuan ini.

Lalu bagaimana dengan ibunya? Hanya pemikiran bocah manja yang membawa-bawa orang tua untuk menilai seorang anaknya. Orang seperti itu selalu merasa bangga dengan nama besar orang tuanya, sehingga akan menilai orang lain dengan bagaimana orang tuanya juga. Enzo itu sudah dewasa gaess!

Teman-temanku di Friendlist Facebook ini tak sedikit. Dari 4000 lebih akun, tak sedikit yang sekolah hingga tingkat pendidikan tinggi. Tak sedikit juga yg tak hanya berpendidikan tinggi, tapi berpendidikan luar negeri. Sehingga kalau aku menelurkan tulisan, kadang ada terbersit rasa malu, "duh, kawan-kawan ku yg sekolahnya hebat-hebat itu pasti menertawakan tulisanku. Tau sendirilah kualitasnya, tak berbanding dengan paper dan jurnal ilmiahnya." Halahhh. Tapi mumpung facebook menggratiskan wallnya untuk dicoreti, maka aku coret-coreti sebisaku. Tulisan tentang banyak sikap-sikap ku, dengan kalimat hati-hati, dan pilihan kata yg selektif sekali.

Tapi tetap saja, aku selalu menunggu kawan-kawan ku yg hebat-hebat itu datang dengan tulisan-tulisan terbaiknya. Tentu, pastinya, jauh lebih bagus dengan coretan nirfaedah pemilik akun ini. Sayang sekali kalau 'keributan' yg berkualitas itu hanya dilakukan dibilik-bilik tertutup grup-grup whatsapp atau telegram, namun nampak kalem di akun media sosialnya. 'Keributan' yang seharusnya melahirkan tulisan terbaik dengan pilihan kata terbaik dan sumber bacaan terbaik di dinding facebooknya itu. Tentu, Bergizi tanpa kandungan hoax dan unsur kebencian.

Enzo, mengingatkan ku tentang gigihnya 'kawan-kawan' di seberang memanfaatkan fitur media sosial untuk menyebarkan apa saja yg harus mereka lawan.

Enzo, mengingatkanku juga tentang kerinduan pada pemikiran kawan-kawan yg terpendam. Menulislah, Jangan Kalah~

Selamat Rehat.


Mang Yuga Assundawy
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search