Murtadnya Seorang Hafidz Alquran

- Agustus 07, 2019
Photo by afiq pilus on Unsplash

Seorang hafidz quran bernama Abdah bin Abdurrahman, seorang tabiin, hafal Alquran dan seorang mujahid. Setiap hari berperang dan membunuh orang kafir. Sampai dia di shaf pertama pasukan jihad muslimin menyerang romawi. Tapi diambil pelajaran bagaimana setan tidak membiarkan menggoda orang dan menunggangi di depan dia yang bisa menjadi bahan fitnah untuk merusak imannya.

Akhirnya saat tiba di satu benteng romawi, dan benteng romawi itu sangatlah kuat. Salah satu ciri benteng romawi itu memiliki perempuan-perempuan yang terkenal memiliki kecantikan untuk melemahkan pasukan Islam, mereka bukan melempari senjata tetapi di benteng-bentengnya didirikan wanita-wanita yang rupawan. Dipajang wanita-wanita itu. Dengan baju yang terbuka dengan rambut yang tergerai.

Ternyata Abdah bin Abdurrahman melihat seorang wanita yang sedang dipajang oleh romawi dan ia terpikat dengan seseorang di antara wanita-wanita itu. Terkena fitnah yang sedang dilakukan oleh tentara romawi. Ia mengirimkan surat kepada salah satu perempuan rupawan itu.


"Bagaimana cara agar saya bisa menjadi istri kamu?"


Kemudian perempuan itu mengatakan, "Masuklah kristen!"

Lalu apa yang terjadi? Tabiin, Abdah bin Abdurrahman itu memilih keluar dari agama Islam. Sang penghafal Alquran itu memilih menjadi murtad. "Baik, saya siap!" kata Abdah.

Dibukakan lah benteng romawi itu. Berjalannya waktu mereka menikah dengan agama yang sama sampai memiliki keturunan dan meninggal dalam keadaan kafir.

Kisah di atas terjadi pada tahun 270 hijriah dan itu adalah sebuah kisah nyata. 

Di masa kini juga ada peristiwa yang nyaris sama. Seorang mahasiswa yang kuliah di sebuah kota yang terkenal banyak kampusnya di bilangan Jawa Barat memilih pindah agama yakni kristen. Ia mengikuti agama istrinya. Padahal dia adalah seorang penghafal Alquran meski belum genap 30 juz. Sedangkan ayah ibunya adalah para pegiat dakwah.

Apa yang salah dari peristiwa di atas? Banyak faktornya. Ternyata berdoa agar diberikan istiqomah itu sangat penting. Yang kedua, pondasi tauhid atau akidah harus ditanamkan terlebih dahulu sebelum menjadi penghafal Alquran. Agar mereka tak sekadar hafal dan tak gampang goyah imannya. Wallahua'lam. (@paramuda)


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search