Bisakah Perempuan Pembawa Anjing di Masjid Dijerat Pasal Penodaan Agama?

- Juli 01, 2019
Terkait tindakan perempuan yang marah-marah sembari membawa hewan peliharaan anjing ke dalam Masjid Al Munawarah, Sentul City, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Ahad (30/6/2019) siang, Badan Hukum Perkumpulan Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (BHP KSHUMI) menyampaikan pendapat hukum.

Pelaku bisa dijerat Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun. Sebab perbuatan perempuan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindak pidana pelecehan atau penistaan terhadap rumah ibadah agama Islam yaitu masjid.

"Bahwa di dalam undang-undang menegaskan, perbuatan pelecehan, penodaan dan penghinaan terhadap suatu agama atau simbol agama tertentu adalah kejahatan serius. Patut diusut secara tuntas agar tidak ada bibit-bibit perpecahan dan konflik antaragama," ujar Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI Chandra Purna Irawan dikutip dari akun Instagramnya, Senin (1/7/2019).



Perbuatan perempuan berinisial SM (52) tersebut dapat dikategorikan perbuatan penistaan agama berdasarkan pasal 156a KUHP. Perbuatan tersebut dapat dinilai mengandung sifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan suatu agama.

"Sifat di sini artinya, bahwa perbuatan tersebut berdasarkan nilai-nilai spritual yang dianut umat pemeluk agama, dapat ditafsirkan atau diartikan oleh penganut agama yang bersangkutan sebagai memusuhi, menyalahgunakan atau menodai agama mereka," jelasnya.

"Pada umumnya, orang masuk mesjid yang dengan sengaja tanpa melepas alas kaki dan membawa anjing dinilai sebagai menodai masjid, karena masjid adalah tempat suci untuk beribadah umat Islam. Maka dalam Islam orang itu dinilai telah menodai agama Islam," tandasnya.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search