Sisa Cerita Emak-Emak yang Berjuang Bersama Prabowo-Sandi

- Juni 29, 2019



Ini sisa ceritaku. Hehe.
(Ceritanya lagi berusaha move on nih, jadi buka album dan menatanya agar lebih rapi)

Emak-emak, bisa apa sih? Pagi dah berkutat dengan isi dapur dan jalan bolak balik ruang makan-dapur-kamar anak. Nyiapin sarapan plus monitor kesiapan anak sekolah.
Lalu kegiatan berikutnya : antar anak sekolah.
Lalu nungguin anak pulang sekolah.

Sambil menunggui anak, ngobrol dengan sesama emak2 yang lain.
Berbagi keluh kesah, juga berbagi gosip dan aneka ilmu. (*sengaja aku nggak nulis ilmu yang bermanfaat karena makna bermanfaat itu sebenarnya relatif).

Dunia emak2 itu, sebenarnya kecil. Yaitu selebar anak2 mereka berlari hingga harus dikejar. Tersengal-sengal, lalu dengam sok akrab curhat pada sembarang emak terdekat tentang betapa lelahnya mengejar si kecil. Lalu berkenalan. Lalu akrab.
Lama-lama, terjalin jaring pertemanan.

"Mak, ikut pengajian di tempatnya anu yuk."
"Boleh bawa anak?"
"Sebenarnya nggak boleh, jadi kalo emang harus bawa anak, dikendalikan saja pas di lokasi."

"Mak, ikut kegiatan bikin kerajinan yuk di balai rakyat."
"Siapa yang ngadain?"
"Oke oce. Gratis kok mak. Paling beli peralatannya aja."
"Boleh bawa anak?"
"Sebenarnya nggak boleh. Tapi kalo mak bisa ngendaliin anak mak biar ga terlalu liar, ajak aja gpp."

Lalu kembali kejadian berulang.  Dunia kecil selebar langkah kaki anak berlari terbentang.
Dunia kecil yang bertemu dengan dunia kecil emak lain bertemu. Bersatu. Berkolaborasi dan tiba2 terasa sudah melebar.

Saling curhat, berakhir jadi saling nasehat.
Saling resah karena masalah, berakhir dengan saling bantu untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah.

Lalu tiba2, secara alami, jadi percaya bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan selain sibuk wara-wiri dapur-ruang makan-sekolah anak-pengajian-balai rakyat. Apalagi jika bukan menyuarakan aspirasi politik.

Siapa menyangka deh, aspirasi satu ini bisa memetik harapan dan semangat.

Punya harapan dan semangat itu bikin hidup terasa lebih hidup. Jadi jangan heran, meski keterbatasan memeluk erat para emak, tapi mereka berupaya untuk mempertahankan harapan dan semangat ini. Tidak punya uang untuk bikin acara besar dan mentereng, maka dibuatlah sesuatu yang kecil mungil tapi bikin hangat rasa kebersamaan. Seperti e-money  limited edition yang aku miliki ini misalnya. Dulu, e-money ini dibuat dalam rangka ngumpulin dana biar bisa bikin acara nobar nonton debat capres.

Di daerah lebih dasyat lagi. Para emak membuat sendiri spanduk dari kardus bekas, atau kain sederhana yang dicat sendiri dengan cat murah agar menjelma jadi baliho ketika musim kampanye tiba.

Para emak, bukan konglomerat. Duh. Jauhlah. Beli cabe saja diirit-irit. Tapi keinginan untuk berpartisipasi menyampaikan aspirasi politik adalah sesuatu yang lahir dari hati. Kebebasan menyalurkan aspirasi politik ini dilindungi oleh undang-undang. Itu sebabnya, mereka tidak segan mengumpulkan uang mereka sendiri, hasil hemat sana sini, agar bisa membantu paslon yang diyakininya membawa kejujuran dan memenuhi harapan mereka.

Para emak.
Emak-emak.
Itu sebabnya Prabowo- Sandiaga Uno tidak lupa untuk menyelipkan ucapan terima kasih pada para emak-emak yang sudah mendukung mereka.

Sepertinya, baru kali ini para emak menerima ucapan terima kasih dari calon pemimpin mereka.

Aku seorang emak.
Aku termasuk dalam kelompok emak-emak yang disebut dalam ucapan terima kasih Prabowo Sandiaga Uno.
Dan aku terharu karenanya.

Siapa bilang deh duniaku hanya sebatas dapur-ruang makan-sekolah anak-pengajian-balai rakyat.
Tidak.
Lihat, itu ada emak-emak disebut dan itu aku. Dan mungkin juga itu kalian,  para emak pendukung Prabowo - Sandiaga Uno.
Ternyata...
Kita berarti.
Kita sudah memberi arti tersendiri.

Jadi, mari kita lebarkan dunia kita melebihi langkah anak kecil yang berlari dan harus kita kejar agar mau makan, agar mau ganti baju, agar semangat sekolah, agar rajin mengaji, agar bagus budi pekerti.

Ketika si anak sudah mandiri, kita pun bisa lebih memberi arti. Hingga suatu saat nanti, si anak kecil yang sudah jadi besar bisa bangga berkata : "itu emakku."

Oleh: Ade Anita
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search