Kisah Nyata Mendapat Balasan Dosa di Tanah Suci

- Juni 09, 2019
Oleh: Binti Muhsinah

Aku adalah seorang lelaki mapan yang bekerja di sebuah instansi pemerintah. Aku telah menikah dan memiliki 2 orang anak. Istriku hanya seorang ibu rumah tangga biasa.  Kehidupan kami Alhamdulillah lumayan dibandingkan dengan tetangga-tetangga di kampung kami.

Di hadapan orang, aku bersikap layaknya orang lain. Aku ingin selalu terlihat sebagai malaikat. Tak pelit pada semua orang, termasuk pada istri dan anak-anakku.

Di kantor, aku adalah pegawai teladan, semua pekerjaan mampu ku handle dengan sangat baik. Setiap pagi jam sembilan pagi aku pamit ke musholla untuk shalat Dhuha. Demi pencitraan agar tampak di mata rekan dan kepala kantor kalau aku adalah pegawai yang rajin ibadah, religius, meski di rumah akulah yang paling malas sholat, bahkan tak jarang sholatku bolong-bolong!

Semua gajiku kuserahkan pada istriku untuk dikelolanya. Di depan semua orang, aku bersikap sangat mesra dengan istriku. Lagi-lagi demi sebuah pencitraan. Dan di rumahku, akulah rajanya! Aku sudah biasa berbuat kasar dan tak jarang mencaci maki atau menyumpah-serapahi istriku!

Aku benar-benar tak mau direpotkan dengan urusan domestik rumah tangga. Urusanku buat cari uang saja. Tak kurang tak lebih. Salah sedikit saja istriku, tak segan aku menempeleng kepala atau menendang badannya. Beruntung dia kuat fisik dan psikologisnya.

Di tahun ke 20 pernikahan kami, aku mendapat berkah untuk berangkat ke tanah suci sendirian tanpa istriku. Betapa bahagianya diriku. Kutunjukkan pada semua orang, aku akan mendapat gelar haji. Demi pencitraan sekali lagi.

****

Pesawat yang kutumpangi mulai mendarat. Rombongan kloter kami mulai turun satu demi satu melewati anak tangga. Tiba giliranku menginjakkan kaki ke tanah haram, di depanku tampak 3 orang lelaki Arab berseragam mirip kantor bea cukai membawa 3 ember. Tanpa kusadari, tiba-tiba mereka menyiramku dengan air comberan yang bau dan kotor. Seketika baju seragam hajiku berbau busuk dan dan basah dengan kotoran.

Rekan-rekanku satu kloter nampak terkejut dengan apa yang aku alami. Mereka menoleh hampir bersamaan. Mas Niel, rekanku  penasaran dengan apa yang terjadi.

"Pak Suryo, ada apa ini, kenapa Pak Suryo sampai disiram air comberan sama mereka?"

Deg. Tiba-tiba terbayang di pelupuk mataku, mungkin ini karena kebiasaan burukku selama di Indonesia.

"Mungkin ini teguran buat aku Mas. Dulu, setiap istriku melakukan kesalahan, aku sering menyiramnya dengan air bekas cucian piring..." Aku menundukkan kepala, sedang Mas Niel nampak terkejut dengan pengakuanku. Selama  ini dia hanya tahu kalau aku adalah lelaki yang sangat baik.

Sambil terus berjalan, aku mencoba mencari toilet umum di bandara untuk membersihkan diri.

Kubiarkan rekan sesama jamaah mendahului. Aku menoleh ke arah "pegawai imigrasi" tadi, hendak protes. Tapi ku lihat mereka hilang tanpa jejak. Hanya tampak beberapa petugas haji pendamping kami di belakang.

Kami segera naik bus menuju hotel tempat kami menginap.

Saat hendak masuk ke dalam bus, seorang lelaki berbadan tegap dan berewokan tanpa ba-bi-bu menempeleng kepalaku berkali-kali hingga kepalaku terasa pening. Aku pingsan dan segera dibawa ke klinik terdekat.

Sadar dari pingsanku, aku teringat lagi kelakuan burukku pada istriku.

Aku beristighfar, banyak sekali kesalahan-kesalahanku pada istriku. Mungkin ini teguran dari Allah, aku sedih sekali. Kucoba menelpon istriku.

"Mah..."

"Ya, Ayah.."

"Maafkan ayah ya .. selama ini aku banyak nyakitin kamu dan anak-anak. Sekarang aku mendapat balasan dari Allah"

Kudengar dari seberang suara isak tangis istriku. Aku menunggu lama hingga kudengar lagi suaranya.

"Iya. Mamah ikhlas. Tolong jangan ulangi kesalahan Ayah lagi.."

Dadaku ikut sesak mengingat banyak kesalahan padanya.

"Ya sudah. Jaga anak-anak ya... Perjalanan ayah masih panjang. Doakan ibadah haji ayah lancar..."

****

Aku terus didampingi dokter saat menjalankan ibadah hingga selesai semuanya.

****

Sepulangnya dari ibadah haji, aku mencoba memperbaiki diri, memperbaiki komunikasi dengan istriku. Terlalu banyak teguran dari Allah saat aku berada di sana.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search