Grafis Kemenhub Soal "Tarif Kita Murah Lho", Mengandung Api

- Juni 02, 2019
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara - Kemenhub RRI mengunggah grafis soal perbandingan harga tiket di Indonesia dengan di luar negeri.

"Sesuai Permenhub Nomor 20 Tahun 2019, ada empat komponen yang mempengaruhi penentuan tarif Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Komponen tersebut meliputi: tarif jarak, pajak, iuran wajib asuransi dan biaya tuslah/tambahan.

Dari keempat komponen itu, kali ini #Minhub mau ngulik tentang komponen tarif jarak. Tarif jarak dihitung berdasarkan perkalian antara tarif dasar dengan jarak penerbangan. Semakin jauh jarak yang ditempuh pesawat, semakin mahal pula tarifnya. Misalnya tarif dari Jakarta ke Tanjung Pinang sejauh 842 km seharga 1,5 juta rupiah, lebih murah daripada Jakarta ke Timika sejauh 3334 km seharga 4,4 juta rupiah," tulis laman resmi Kemenhub itu pada Sabtu (1/6/2019).

"Dibandingkan negara lain, tarif jarak di negara kita lebih murah, lho," kata laman itu menambahkan.

MinHub menjelaskan misalnya saja Penerbangan dari Montreal ke Quebec sejauh 941 km dibanderol 3,1 juta rupiah. Padahal dengan jarak yang hampir sama, dari Biak ke Merauke sejauh 945 km, cuma dibanderol 1,6 juta rupiah.

"Wow! Murah kan?" katanya.

Unggahan MinHub terang memancing api kemarahan warganet.

"Sumpah level kepintran kementrian seperti ini,, gue sekolah tinggi tinggi merasa dbegoin dgn kementrian," kata pengguna media sosial bernama Awal Hidayat.

"Bego, bandingin tanpa lihat Pendapatan perkapita, Inflasi dan kondisi negara asal itu mencerminkan anda... Admin atau siapalah yang menulis komparasi ini tidak pernah kuliah atau berfikir secara analitis, buat apa seleksi PNS begitu ketat kalau pola pikir ASN yang menulis artikel kajian komparasi kayak gini," kata akun Muhammad Syarif Lubis.

"Min, mahasiswa yg Arubaito loper koran yg cuma butuh 2 jam kerja sehari di Jepang bisa take home pay 48000円 sebulan, jadi cleaning service 800-850円 sejam, fresh graduate yg dpt kerja di perusahaan bisa dpt 23万円, belum lagiv kalo pekerja profesional....harga tiket pesawat segitu mah gak ngaruh banget buat mereka...lha di Indo dosen lulusan S2 aja kadang kudu nyambi jualan produk MLM biar bisa survive

Komparasikan juga dong dengan pendapatan perkapita rakyat kita, itu baru adil," kata akun Wahyudi Mokobombang.



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search