Di Balik Tisu-Tisu yang Dijual Anak Kecil Itu dan Nenek Parkir

- Mei 13, 2019
Syukri Wahid

Lepas Tarawih di Masjid, saya mencoba mencari kehangatan tubuh dengan minum segelas Cappucino sebelum rehat malam . Sejak awal menyeruput kopi panas, mata saya tertuju kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk diluar , persis depan kaca tempat saya duduk didalam, dia tampak seumuran atau dibawah umur anak saya yang laki-laki.

Sedari tadi saya menatap wajahnya , tampak seperti sedang dirundung kesedihan diraut wajahnya, entahlah dan sesekali dia mencuri pandangan kearah dalam tempat saya minum dan beberapa orang sedang makan. Terkadang ia merebahkan wajahnya dilipatan kedua tangannya yang sedang memegang 3 buah kemasan tisu dan tas berwarna merahnya yang bertengger di punggungnya.

“Kamu sudah makan, Nak?”, tanyaku penasaran.

“Belum, Om!“ jawabnya langsung.

“Ayo masuk dan makan di dalam, Nak!“ ajakku didampingi teman.

Sambil menunggu pesanan nasi goreng spesial dan es teh manis, saya coba bertanya kepadanya.

“Siapa namamu, Nak?” sapaku.

“Ridho,“ jawabnya singkat ,

Tampak matanya sudah berkaca-kaca, entahlah sepertinya sesuatu yang dalam perasaannya begitu terasa. Saya terus berdialog.

Dia baru dua malam tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh nenek dengan tiga anak cucunya, dia selama ini tidur di luar teras Indomaret. Ridho seorang yatim piatu, sejak meninggal orang tuanya, dia mencari kehidupannya sendiri , sebab rumah gubuk yang dihuni katanya dibongkar karena di lahan milik orang.

Tadinya saya kurang percaya. Mohon maaf apakah dia sekadar merangkai cerita agar dikasihani. Kakaknya satu-satunya juga meninggal dan akhirnya dia pergi ke Makassar dengan cara jalan kaki katanya. Dia tidak menjawab di mana kampungnya.

Saya bertanya,"Di mana kamu tinggal dan mandi?"

"Saya tinggal di situ Om, sambil menunjuk ke arah kanan," jawabnya. Dan kalau mandi dia pergi ke Masjid pakai kamar mandi masjid .

Umurnya 13 tahun dan tidak bersekolah, dia menyeka air matanya yang tumpah mengaliri kedua pipinya.

Baru dua hari ini dia ditampung oleh seorang nenek yang mengambil dan memberikan tumpangan di rumahnya. Dan sejak hari itu nenek tersebut berikan dia pekerjaan jualan kertas tisu, yang dijual seharga Rp 5000 per kotak. Berapapun yang laku dia setor ke nenek tersebut .

Akhirnya nasi goreng pesanannya datang dengan lahap dihabiskan, sepertinya dia baru rasakan makanan seenak nasi goreng tersebut.

Karena saya penasaran.

“Nak, boleh saya bertemu dengan nenek yang tampung Ridho?” ujarku , dia bilang neneknya ada di situ selalu. Sejujurnya bukan hanya kisahnya Ridho membuat saya sedih dan menyentuh, namun terbesit ada sosok manusia yang kemudian dengan lembutnya melihat dia sebatang kara dan mau menampungnya .

Jarak dari lokasi kami makan sekitar 500 meter. “Itu nenek di sana?!” Ridho menunjuk, namun saya tidak bisa melihat jelas. Saya semakin penasaran , saya biarkan Ridho turun dan menghampiri sosok nenek yang dimaksudkannya.

Betapa lemas lutut ini, karena melihat ada seorang perempuan paru baya dengan memakai Rompi parkir yang dihampirinya , ketika dari kejauhan Ridho bertemu dan betapa sang nenek datang menyambutnya dan memberinya minum yang dibelinya dari dalam. Terus terang saya meleleh melihatnya, merasa tercabik hati ini. Saya keluarkan dulu air mata ini, kemudian segera saya menghampiri ibu yang baik tersebut.

Dia orang susah , menjadi juru parkir dengan penampilan lusuh , namun dia hidupkan tiga orang anak dan kini dia telah menampung satu anak lagi di rumahnya, yaitu Ridho .

Duhai Rabb ....malu hati ini padanya.

Saya datangi ibu tersebut dan saya berkenalan dan spontan saya mencium tangannya .

“Maaf bu, tadi saya ketemu Ridho dan ajak dia makan, setelah itu saya antar pulang, katanya tinggal sama nenek, maaf nek siapa namata ?,”, ujarku menyapanya .

“Namaku Emy, Nak. Sudah 20 tahun mi saya jadi juru parkir di sini,“ jelasnya sambil senyum.

Duhai Rabb. Inilah sang ibu tukang parkir yang mengambil anak itu. Saya minta beliau cerita , bagaimana dia bisa temukan Ridho.

Dengan logat Makassarnya yang kental, “Itu hari saya lihat dia tidur di teras toko ini. Saya kasihan lihat dia, saya tanya kenapa kok ada di sini,, dia jawab ndak ada tempat tinggal, akhirnya kubawaki ke rumahku di lorong 5 di belakang sini, Pak“jawabnya singkat.

“Kebetulan Adaji juga cucu-cucuku , jadi biarmi tinggal sama saya, terus kukasihkan tisu setiap hari biar bisa jualan tisu untuk makan sehari-hari kami di rumah."

Malam itu , saya kehilangan kalimat, tiba-tiba saja menampar wajah hati saya. Bahwa di kolong langit ini ada banyak tersembunyi manusia-manusia langit dengan sikap pengasih dan penyayang.

Dirinya mungkin tak hafal atau tahu ada ayat dan hadits tentang menolong, tetapi yang dia tahu dalam dirinya ada sifat Tuhan yang dia aktifkan ,, ditengah kesulitannya dia hanya Tahu bahasa Tuhan adalah menolong dan menyayangi.

Seorang teman akhirnya berkomitmen utk membantu Ridho dan mengambilnya sebagai anak asuhnya, cukuplah Allah yang membalasnya .

Saya meninggalkan mereka dengan memberikan no telpon , dan Ridho yang jarang bicara tiba-tiba memberikan ku salam., "Terima kasih Om,,,hati-hatiki di jalan."

Saya balik belakang tak terasa air mata kembali mengalir.


Duhai Rabb..Apalah aku ini.... terlalu merasa dekat denganMu, Namun di luar sana ada orang yang langsung menjadi duta-dutaMu tanpa embel-embel dan simbol dia dekat denganMu.



Sumber: Viva
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search