Anakku Malu Mempunyai Ibu Seperti Aku

- Mei 15, 2019

Oleh: Chalondra Fidely


(Kisah nyata seorang tetangga)

"Nak, bangunlah lagi. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah!"
Sudah berulangkali aku membangunkan Ratu putri semata wayangku. Jangankan bangun, menggeliat saja tidak. Padahal dia sudah kelas 3 SMA, tidak boleh bermalas-malasan lagi.
"Yah, sudah! kalau kamu tidak mau bangun, Ibu berangkat dulu. Assalamualaikum." sengaja kudekatkan ucapan salam ke telinganya.

Kucium pipi dan kening Ratu seperti biasa. Aku  tau dia sudah bangun, tapi pura-pura nggak mendengar. Gerak tangannya cepat melap bekas ciumanku.

Ya Allah, beri hambaMu ini kesabaran. Aku mengurut dada. Aku kemasi barang dagangan dan tetap berangkat pagi sekali. Jika terlambat,  jualanku bisa tidak laku lagi. Toh, Ratu nanti bangun sendiri dan bisa jalan kaki ke sekolah. Belum pernah selama ini kami dapat surat panggilan dari pihak sekolah. Artinya, dia tidak pernah terlambat.

Sudah enam bulan belakangan ini sikap Ratu sangat dingin padaku sebagai ibu kandungnya. Entah apa yang membuatnya seakan tidak kenal denganku, bahkan bila berbicara hanya yang penting-penting saja. Selebihnya dia memilih untuk diam.
Apa karena kesibukanku, atau karena ayahnya sakit atau karena kurang perhatian dari kami sebagai orang tua.
Kalau karena itu, jujur saja "iya" jawabannya.

Sudah enam bulan suamiku terbaring, karena sakit gula. Kondisinya sudah parah, harus dirawat di rumah sakit. Sebagian kaki dari lutut sampai telapak kaki, dagingnya membusuk dan sudah ada yang diamputasi. Ginjalnya, kata dokter hanya berfungsi 5% saja lagi, jadi harus selalu cuci darah. Suamiku sudah tidak bisa apa-apa lagi, jangankan untuk berjalan dengan alat, duduk sajapun harus dibantu.

Kami memang dapat BPJS, tapi tidak sepenuhnya membantu. Biaya berobat, menjaga di rumah sakit, biaya sekolah Ratu dari mana di dapat? Sedangkan gaji suamiku sudah tidak diterima lagi dari perusahaan. Untuk minta bantuan saudarapun susah. Maklum kami sudah lama merantau dari pulau Jawa ke Sumatera. Tidak ada sanak keluarga di sini. Beruntung aku punya tetangga yang baik dan selalu membantu.

Kondisi memaksaku memutar otak bagaimana bisa dapat uang, sementara suami dan anak tidak terabaikan. Hanya berjualan dan jadi tukang urut yang bisa aku lakukan. Untung rumah kami tidak jauh dari rumah sakit.

Jam 2 malam saat suamiku sudah terlelap, aku pulang ke rumah untuk memasak lontong dan gulai, nasi goreng dan bakwan. Beliau terpaksa aku titipkan pada perawat jaga. Bila sewaktu-waktu kantong pipisnya penuh atau ingin buang air besar, maka aku minta dikabari.  Tapi jarang sekali perawat mengabariku, sehingga aku bisa fokus memasak. Harus cekatan dan berburu dengan waktu. Ratu tidak mau ikut membantu, katanya mengantuk. Tidak apa-apa, yang penting dia masih mau sholat dan rajin sekolah. Urusan bapaknya biar ibu saja yang urus.

Pagi sekali aku akan menjajakan makanan yang kumasak semalam kepada para orang-orang di rumah sakit. Pada dokter, perawat, pegawai dan keluarga yang menjaga si sakit. Alhamdulillah masakanku enak, kata mereka dan selalu habis. Tapi bila terlambat, maka aku harus pergi ke tempat lain agar ada yang membeli, karena banyak juga yang lain berjualan yang sama di rumah sakit itu.

Selesai berjualan, aku akan melap dan mengganti pakaian Mas Sabri. Disuapkan makan dan bercengkrama sesaat, setelah beliau tertidur lagi maka aku akan pergi ke sekolah-sekolah dengan motor butut kami untuk menjajakan donat dan kue lainnya. Itu bukan buatanku, tapi kuambil di toko roti seharga tiga ribu dan dijual lagi seharga tiga ribu lima ratus. Guru dan anak-anak sekolah banyak yang menyukai. Barang jualanku laris manis. Aku kembali lagi ke rumah sakit.

Siang selepas sholat zuhur dan menyuapkan makan Mas Sabri, aku akan menawarkan jasa urut kepada keluarga yang menjaga si sakit di rumah sakit itu. Mereka tentu kelelahan berjaga siang dan malam merawat anggota keluarganya, belum lagi tidur hanya di lantai. Alhamdulillah banyak yang mau dan kadang mengasih lebih. Aku sudah meminta izin Mas Sabri dan pasienku hanya wanita saja. Begitulah hampir setiap hari kulakoni semuanya. Kadang bila kondisi Mas Sabri drop, bisa berhari-hari aku hanya menjaganya saja tanpa ada uang yang masuk. Pernah dibolehkan pulang oleh dokter, tapi hanya dua hari di rumah setelah itu kembali lagi di rawat.

Pernahkah aku mengeluh? Tidak. Capekkah?, Iya. Aku manusia biasa, tulang belulang rasa remuk redam, tapi tak mengapa.
 Kujalani semuanya dengan penuh syukur. Berat ujian hidup kami, masih banyak di luaran sana yang lebih berat cobaan mereka. Allah tidak akan menimpahkan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Setiap sehabis sholat aku selalu  berdoa untuk kesembuhan Mas Sabri, mendoakan Ratu supaya jadi anak sholehah dan berbakti kepada kedua orang tuanya, berdoa semoga aku sehat selalu, sehingga bisa menjalani semua dengan baik dan sabar.

Aku sadar kesibukanku membuat Ratu kurang terperhatikan, mungkin karena itu dia marah.

Suatu siang aku pulang ke rumah sehabis berbelanja ke pasar. Ratu ternyata sedang asyik menonton televisi.

"Nak, bantu ibu jaga ayah di rumah sakit ya. Semalaman ibu kurang tidur, kepala sakit sekali,"

Tak ada jawaban sedikitpun dari Ratu, menolehpun tidak. Aku sentuh pundaknya dan  mengulangi sekali lagi permintaanku.
"Nak, boleh ibu minta tolong, jaga ayah di rumah sakit?"

"Nggak mau, jaga aja sendiri sama ibu!" akhirnya keluar juga suaranya.

"Astaghfirullah, Nak! Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa, tapi jangan teriak seperti itu jawabnya," kutahan air mata yang serasa mau jatuh.

"Aku benci ibu, aku benci kalian!"

"Nak, benci kenapa? gemetar suara dan jantungku. Ada apa sebenarnya?

"Aku malu punya ibu yang jualan di rumah sakit dan pergi jualan ke sekolah-sekolah, apalagi ibu kerja juga sebagai tukang urut! Dimana malu ini akan aku surukkan ibu? Aku juga malu jadi bahan bulli sama teman-teman!"

Deg.. Debar jantungku semakin tak menentu. Air mata tak bisa lagi kubendung. Ternyata karena itulah selama enam bulan belakangan ini Ratu bersikap dingin. Dia seakan bukan Ratu yang kukenal, putriku yang dulu sangat ceria dan semangat.

"Ya Allah... Nak...,,! Ibu kerja untuk kamu dan ayah. Bisa dapat uang dari mana kalau ibu tidak kerja? Untuk uang sekolahmu, biaya berobat ayah, bayar listrik, air dan uang kontrakan. Akan dibayar dengan apa kalau ibu tidak seperti sekarang, Nak..!" tumpah sudah sesak di dadaku.

"Ibu kan bisa kerja lain, tidak yang memalukan aku seperti itu!" lagi-lagi tak juga putriku mengerti.

"Kerja seperti apa, Nak. Tolong bilang ke ibu. Memalukan bagaimana pekerjaan ibu di matamu? Ibu tidak menjajakan diri, tidak melacur, tidak mencuri, tidak membohongi orang, jadi hinanya ibu dimana, Nak...," kupukul-pukulkan tangan ke dada. Hancur rasanya hati.

"Pokoknya aku malu!" lengking suara Ratu. Dibantingnya pintu dan masuk ke dalam kamar.

Bila bisa aku kabarkan pada dunia, maka akulah yang paling bersedih hari ini..
Ratu sedang emosi, tak akan terterima juga bila dibenarkan.

Kuseka air mata dan menyimpan barang belanjaan tadi. Tidak jadi tidur. Aku berangkat ke rumah sakit. Kubuat kesan tak ada apapun yang terjadi. Di hadapan Mas Sabri aku harus terlihat ceria dan baik-baik saja.

"Bu, bawalah istirahat barang sekejap. Kamu pasti lelah mengurusi aku, bekerja dan menjaga anak kita. Bapak mohon maaf sudah menyusahkanmu, Bu.." itu perkataan yang sudah kesekian kalinya diucapkan suamiku. Tapi ntah kenapa hari ini kata-kata itu begitu mengena ke hati.

Di mushallah rumah sakit, aku tengadah dan berdoa pada yang Maha Kuasa. Mohon ampun atas segala dosa dan semoga hati anakku Ratu dilunakkan, suamiku diberi kesembuhan dan aku diberi kesabaran olehNya. Tak terasa bulir-bulir bening jatuh membasahi pipi.

Seminggu setelah kejadian itu, aku diundang ke sekolah, acara wisuda kelulusan Ratu. Saat pengumuman peraih nilai tertinggi, ternyata Ratu meraih nilai UN tertinggi.
"Alhamdulillah berkahMu Ya Allah..." sujud syukurku.
Ketika orang tua di suruh maju ke depan, aku bersiap dengan bangganya. Ternyata sungguh aku tak menyangka, ada orang lain yang dimintai tolong Ratu untuk menggantikanku. Katanya aku tidak bisa datang karena menjaga ayahnya di rumah sakit.
Masih sempat kulihat sepintas Ratu melihat kepadaku dari bangkunya di sudut bagian depan.
Tak bisa kutahan lagi aku terisak dalam tangis. Tak ingin putriku malu, aku mundur dan meninggalkan ruangan itu. Tiba di luar aku bertemu dengan panitia yang kebetulan gurunya Ratu.
"Bundanya Ratu?"
"Iya, Buk," jawabku sambil menyembunyikan tangis.
"Itu Ratu yang dapat nilai terbaik, koq Bunda tidak maju ke depan?"
"Iya Buk, tadi saya telat dan hampir tidak bisa ke sini," jawabku, ingin cepat saja berlalu dari sana.
"Saya dengar ayahnya Ratu lagi sakit ya Bun?"

Kepalang tanggung, gurunya itu sudah banyak bertanya. Akhirnya isakku yang tak bisa ditahan, membuat guru itu membawaku ke sudut ruangan.
Untuk pertama kali semua tentang yang terjadi, kuceritakan pada gurunya Ratu. Rupanya dia guru BK di sekolah.

"Insya Allah Bun, saya akan coba bantu mengingatkan Ratu. Sungguh saya tak menyangka, berat sekali beban yang Bunda pikul," itu kata lembut guru Ratu menenangkanku.

Aku mohon pamit untuk segera ke rumah sakit. Walau berusaha ditahan oleh guru itu.

Kukabarkan dengan kebahagiaan penuh kepada Mas Sabri, prestasi anaknya. Mata suamiku berkaca-kaca, terharu dan bangga.

"Itu kuasa Allah, kamu telah banyak berkorban Bu. Alhamdulillah, terima kasih..."

Aku pamit sebentar untuk menjemput air panas ke ruangan lain. Saat itu aku hampir bertabrakkan dengan Ratu.

"Nak, sel..," belum sepenuhnya kataku terucap, Ratu sudah berlalu ke dalam ruangan. Tangannya menggenggam tropi, piagam dan medali. Dia seakan tak mengenaliku sama sekali.

Ya Allah...

"Ayah, Ratu berhasil... Nilai Ratu yang terbaik! Terima kasih ayah..," kudengar dari balik pintu Ratu berteriak girang kepada ayahnya.

"Bersyukurlah pada Allah dan jangan lupa berterima kasih pada ibumu, Nduk," wejangan Mas Sabri yang membuat tiada henti air mata ini tuk menangis.

*****
Menunggu suatu saat semoga Allah membukakan hati Ratu.

Mohon doa kepada semua pemirsa, semoga Pak Sabri cepat sembuh dan rezeki keluarga itu bertambah, Mbak Winda tetap sehat, sabar dan tabah. Ratu anak mereka bisa segera menginsyafi kekhilafannya.
Advertisement

1 komentar:

avatar

Sangat terharu sekali..semoga kasih sayang Allah senantiasa mengisi rongga qalbu nak Ratu, & bangga memiliki ibu yg kuat..


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search