Surat Cinta untuk Ustaz Abdul Somad di Atas Peron

- April 12, 2019
Photo by Joanna Kosinska on Unsplash
Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Ustaz Abdul Somad. Saya berharap Ustaz selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap istiqomah di jalan dakwah.

Perkenalkan, nama saya Muhammad Sholich Mubarok. Biasa dipanggil Mubarok. Seorang pegawai swasta biasa yang tiap hari menempuh perjalanan dengan kereta commuter line ke Jakarta.

Saya menulis surat ini di peron, di stasiun Pondok Cina, Depok. Sambil duduk di kursi yang kursinya lebih mirip tempat jemuran handuk ketimbang tempat duduk.

Ustaz yang dirahmati Allah SWT, semalam saya sudah menyaksikan tayangan yang menampilkan kunjungan Ustaz  ke calon presiden hasil Ijtima Ulama, Bapak Prabowo Subianto.

Masih teringat jelas Ustaz berkata, "Seandainya doamu cuma satu mintalah pemimpin yang baik, kalau Bapak adil maka seluruh negeri ini akan dapat keadilan."

Iya, Ustaz benar. Banyak ketidakadilan yang dipertontonkan dengan benderang di negeri. Ustaz juga mengalaminya. Di beberapa tempat Ustaz mengalami pengadangan padahal Ustaz tidak sedang menebarkan racun yang bisa merusak persatuan. Padahal Ustaz sudah menampik untuk menjadi cawapres Prabowo bahkan Ustaz mempersilakan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Salim Segaf Aljufrie. Habib Salim malah mempersilakan engkau, Ustaz. Begitulah akhlak orang berilmu dengan segala ketawaduannya.



Di rumah itu engkau menyampaikan sesuatu kepada jenderal. Yang kemudian ucapannya berhasil menggedor hati Prabowo sehingga membuat bendungan airmatanya jebol tak terbantahkan.

Tangisan bukanlah lambang kelemahan dan kerapuhan. Tapi simbol hidupnya nurani dan keimanan. Meski di luar sana dia tampak garang saat berorasi dan menggebrak-gebrak podium.

Pertemuan malam itu sungguh sebuah oase. Banyak yang terketuk hati dan berurai air mata. Ya sebuah oase. Sebab siangnya masyarakat kita ditampakkan pemandangan gersang. Kegersangan itu adalah kabar terkuaknya surat suara yang tercoblos di negeri jiran. Surat suara yang berlubang petahana dan partai politik pendukungnya.

Ustaz, dua pemandangan yang hadir di hari yang sama di atas seolah petunjuk dari Allah SWT menjelang pemilihan pemimpin. Tabir-tabir itu terkuak oleh TanganNya. Yang haq akan tampak had, yang juhala akan tampak juhala.

Satu yang pasti dari pertemuan itu adalah soal ketulusan. Hal yang belakangan menjadi benda asing yang turun ke bumi. Kau tak minta apa-apa dari Prabowo pada pertemuan malam Jumat itu. Kau hanya memintanya menjadi pemimpin yang adil jika terpilih menjadi pemimpin negeri ini.

Terima kasih Ustaz kau telah memberikan pencerahan siapa yang layak untuk dicoblos di pemilu nanti, di saat ada ustaz yang memilih bertahan di gerbong para pembohong. Pun kau menyebut PKS atau PAN untuk partai yang layak dipilih karena membela kepentingan umat di Senayan.

Kereta saya sudah datang. Saya akan menaiki menuju stasiun berikutnya. Sepanjang perjalanan semoga saya aman-aman saja. Hati riang seperti menyambut pemimpin baru yang akan datang. Assalamualaikum wr wb.



Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Ustaz Abdul Somad. Saya berharap Ustaz selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap istiqomah di jalan dakwah. Perkenalkan, nama saya Muhammad Sholich Mubarok. Biasa dipanggil Mubarok. Seorang pegawai swasta biasa yang tiap hari menempuh perjalanan dengan kereta commuter line ke Jakarta. Saya menulis surat ini di peron, di stasiun Pondok Cina, Depok. Sambil duduk di kursi yang kursinya lebih mirip tempat jemuran handuk ketimbang tempat duduk. Ustaz yang dirahmati Allah SWT, semalam saya sudah menyaksikan tayangan yang menampilkan kunjungan Ustaz ke calon presiden hasil Ijtima Ulama, Bapak Prabowo Subianto. Masih teringat jelas Ustaz berkata, "Seandainya doamu cuma satu mintalah pemimpin yang baik, kalau Bapak adil maka seluruh negeri ini akan dapat keadilan." Iya, Ustaz benar. Banyak ketidakadilan yang dipertontonkan dengan benderang di negeri. Ustaz juga mengalaminya. Di beberapa tempat Ustaz mengalami pengadangan padahal Ustaz tidak sedang menebarkan racun yang bisa merusak persatuan. Padahal Ustaz sudah menampik untuk menjadi cawapres Prabowo bahkan Ustaz mempersilakan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Salim Segaf Aljufrie. Habib Salim malah mempersilakan engkau, Ustaz. Begitulah akhlak orang berilmu dengan segala ketawaduannya. Di rumah itu engkau menyampaikan sesuatu kepada jenderal. Yang kemudian ucapannya berhasil menggedor hati Prabowo sehingga membuat bendungan airmatanya jebol tak terbantahkan. Tangisan bukanlah lambang kelemahan dan kerapuhan. Tapi simbol hidupnya nurani dan keimanan. Meski di luar sana dia tampak garang saat berorasi dan menggebrak-gebrak podium. Pertemuan malam itu sungguh sebuah oase. Banyak yang terketuk hati dan berurai air mata. Ya sebuah oase. Sebab siangnya masyarakat kita ditampakkan pemandangan gersang. Kegersangan itu adalah kabar terkuaknya surat suara yang tercoblos di negeri jiran. Surat suara yang berlubang petahana dan partai politik pendukungnya. (lanjut di komen)
A post shared by Muhammad Sholich Mubarok (@paramuda) on
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search