Sales Fatwa

- April 01, 2019
Photo by Jezael Melgoza on Unsplash
Oleh: Abu Azka 


Kalau penerapan kaidah irtikab akhaffif adh-dhororoin itu tidak harus sampai bermotifkan kedaruratan serta abai terhadap syarat-syarat, maka konsekuensinya ngeri sekali.

Misal: Anda berada dj jamuan makan malam. Menu yang tersedia hanya ada daging babi panggang dan daging babi mentah. Kondisi Anda saat itu sedang fit dan tidak dalam keadaan kelaparan dan memungkinkan untuk pergi ke resto yang menjual makanan halal.

Maka anda boleh memilih mana yang mudhorotnya lebih sedikit. Dan tentu akan memilih daging babi panggang yang ia sudah dimasak, sehingga mengurangi risiko mudhorot yang timbul dari bakteri, organisme, serta virus yang ada dalam daging yang mentah.



Itu kalau anda memakai kaidah tersebut tanpa harus sampai pada konteks darurat. Kebayang kan bagaimana buruknya konsekuensinya?

Makanya ahlul ilmu dalam memfatwakan kaidah tersebut tentu menggenapkan syarat-syarat yang mesti dipenuhi sebelum kaidah itu terpenuhi. Bila kaidah itu bebas tanpa syarat maka tiap orang akan memilih sesuai dengan hawa nafsu dimana menimbang mudhorot hanya pada level perspektif pribadinya saja yg tanpa rujuk ke timbangan syariat

Itulah pentingnya kita untuk mencoba mengaktualisasikan kaidah ulama dalam keadaan realitas untuk tahu apakah kaidah tersebut bisa berjalan pada track yang benar atau tidak.

Jika cuma gembar-gembor kaidah dan fatwa tapi tanpa mengujinya, yang ada hanya menjadi sales fatwa saja. Itu yang kita tidak inginkan bersama.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search