Meski Diboikot, Nasi Padang Memiliki Peminat yang Militan

- April 23, 2019
travellingyuk
Peneliti Sejarawan Sumatera Barat Maiza Elvira melihat fenomena pemboikotan nasi Padang pasca rendahnya hasil pemilihan untuk capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'aruf Amin, sebenarnya merupakan fenomena yang biasa untuk mengekspresikan kekecewaan oleh pendukung 01.

Aksi serupa tidak hanya terjadi saat ini saja. Saat aksi 212 lalu sebelum pilkada DKI Jakarta, boikot Sari Roti juga sempat viral di media sosial. Boikot Sari Roti sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemilik brand tersebut. Meski nyatanya, aksi boikot tersebut tidak berlangsung lama.

"Ini fenomena yang biasa untuk mengekspresikan kekecewaan oleh pendukung 01. Sama halnya dengan boikot Sari Roti dulu. Awal-awal viral, penurunan omset pastinya dirasakan oleh pemilik merek dagang tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, boikot tersebut mulai memudar," kata Maiza Elvira, Selasa 23 April 2019.

Maiza Elvira menilai pemilik warung nasi Padang terutama yang berada di basis utama pendukung Jokowi-Ma'aruf Amin harus bersabar untuk beberapa waktu jika kemudian boikot tersebut benar terjadi dan mempengaruhi omset harian warung nasi mereka. Dampak pendapatan dari penjualan nasi Padang di basis pendukung 01, barangkali akan terjadi. Akan tetapi pasti itu tidak berlangsung lama.

"Ini hanya akan terjadi sementara saja. Hal ini disebabkan karena warung nasi Padang juga mempunyai peminat dan pendukung yang militan, seperti layaknya pendukung capres saat ini," ujar Maiza.

Diketahui pasca kekalahan Jokowi dua kali berturut-turut di Sumatera Barat pada pemilu, muncul seruan boikot nasi Padang. Seruan itu kemudian viral di media sosial. Banyak warganet menyebutkan jika seruan itu merupakan seruan yang berlebihan.


Sumber: Viva

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search