Iklan PKS yang Membuat Orang Tergila-gila

- April 02, 2019
Ilustrasi: PKS Solo
Iklan Pemilu 2019 yang disodorkan PKS sepanjang 30 detik itu mulai tayang 1 April 2019 pada beberapa stasiun televisi, terlambat 8 hari ketimbang kuota penayangan gratis yang disediakan oleh KPU. Sepanjang delapan hari itu, stasiun televisi yang dikontrak oleh KPU menayangkan iklan versi lama yang pernah dipakai untuk kampanye PKS dalam Pemilu 2014.

Namun materi iklan PKS 2019 itu tetap beredar sejak pekan terakhir Maret 2019 melalui berbagai media non-konvensional semisal Youtube atau jejaring media sosial semisal facebook, instagram atau Whatsapp.

Menjelang awal April 2019, mulai beredar kritik dan ajakan memobilisasi protes terhadap iklan PKS tersebut melalui pesan WA berantai dari mereka yang menyebut dirinya sebagai “Aktivis Kesehatan Jiwa”.

Mereka menganggap bahwa iklan tersebut telah melakukan perundungan (bullying) dan stigmatisasi terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), serta menjadikannya sebagai lelucon.

Perhatian khusus para aktivis kesehatan jiwa itu terutama ditujukan pada penggunaan frasa “gila” dalam CAPTION “istri harus dijaga agar enggak dibawa orang gila” dan “suara juga harus dijaga biar kagak diambil orang gila”.

Tidak ada pemakaian kata “gila” dalam dialog para pemeran iklan, yang ada adalah pelisanan frasa “sarap” (yang sejauh ini belum masuk sebagai lema dalam KBBI dan tesaurus-nya) , yang dipakai untuk meyakinkan kegentingan akibat truk si Soleh dilarikan oleh Rojak, mantan supir. Istri si Soleh memang ikut terbawa oleh truk itu.

Gerak-gerik yang ditampilkan secara visual, termasuk bahasa tubuh para pemeran, tidak dapat disimpulkan secara tegas sebagai ODGJ atau orang-orang yang sedang berhadapan dengan ODGJ.

Secara keilmuan dan profesi kesehatan jiwa, kategori ODGJ memang mencakup aneka ragam gejala dan sindroma perilaku manusia yang secara umum dilabeli sebagai “abnormal”.
Kategori ODGJ itu membentang dari sindroma yang sangat ringan atau samar-samar sampai kepada mereka yang sungguh-sungguh tak mampu membedakan antara realitas dengan imajinasi.

Kategori ODGJ kiwari itu memiliki cakupan luas , semisal bipolar personality, ketagihan narkoba dan zat-zat adiktif sampai dengan schizophrenia.

Psikiatri dan Psikologi zaman kiwari telah mengadopsi berbagai aliran atau mazhab mengenai kegilaan, abnormalitas atau ODGJ.

Beda mazhab, berbeda pula kriterianya, bahkan mengakibatkan kategorisasi itu menjadi sumir atau menjadi relatif, atau bahkan terbolak-balik dalam penerapannya.

Pertanyaan mengenai apakah benar para pemeran dalam iklan tersebut digambarkan sedang berhadapan dengan ODGJ, atau apakah ada salah seorangnya yang masuk dalam kategori ODGJ, dapat terjawab melalui adegan “si Rojak, mantan supir yang sarap” itu yang ternyata mampu menyupir truk dengan kecepatan sedang (atau tinggi ?) di jalan raya yang tidak kosong, tanpa mencelakakan orang lain atau diri sendiri.

Ekspresi kekagetan atau ketakutan istri si Soleh juga tidak dapat disimpulkan secara a-priori sebagai sedang berhadapan dengan ODGJ.

Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa iklan tersebut sesungguhnya sedang memanggungkan dinamika kehidupan rakyat jelata : “keisengan” si Rojak yang dianggap “sarap” oleh salah seorang temannya, ketidaksiapan si Soleh dan istrinya menghadapi situasi darurat, ketidakberdayaan rakyat jelata berhadapan dengan ketidakadilan para penguasa (yang dikiaskan melalui polisi yang merazia para pengendara motor dan membiarkan truk dilarikan oleh Rojak), nestapa rakyat jelata akibat kelangkaan uang untuk membayar pajak sepeda motor dan memperpanjang SIM.



Sementara itu, Rojak yang dianggap “sarap” mampu menembus semua keterbatasan itu, dengan riang gembira melantunkan “... naik-naik ke puncak gunung ... “, sembari menyupir truk melintasi razia polisi.

Orang-orang lain dalam iklan tersebut nampaknya kehilangan selera humor akibat beban hidup yang semakin berat.

Tetapi sebagian besar pemirsa dikhabarkan menikmati iklan itu, bahkan mungkin sampai tergila-gila. Mungkin selera humornya masih terpelihara, tetap segar dan tidak basi.

Pada bagian menjelang akhir, PKS menjanjikan sebagian solusi atas ketidakberdayaan yang berakibat pada suasana kehidupan yang “garing” dan kehilangan selera humor, dengan menjanjikanSIM seumur hidup dan membebaskan pajak STNK sepeda motor.

Para pengritik itu mungkin berniat baik (tetapi lugu) untuk memperjuangkan hak-hak ODGJ agar menjadi manusia dengan kualitas hidup yang terus-menerus meningkat. Sebagian lain (mungkin) terlalu serius menonton panggung akrobat politik kiwari yang menyebalkan, sehingga selera humornya merosot drastis.

Sebagian lain (mungkin saja) disusupi pesan-pesan kedengkian para penumpang gelap alias free-riders yang terjangkit sindroma syahwat berkuasa yang menggila, terutama menjelang kekalahan dalam perlombaan menuju kekuasaan yang telah menguras habis kewarasan jiwa, kedigdayaan raga, keberkahan harta dan kepekaan nuraninya.

Allahu’alam bishshowwaab.

Suryama M. Sastra

Depok, 02 April 2019
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search