Utang Indonesia Lunas Saat Jokowi Naik KRL

- Maret 07, 2019
Pada Rabu (6/3/2019), Presiden Joko Widodo Jokowi naik kereta dari Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, sekitar pukul 17.45 WIB. Jokowi naik KRL tanpa pengawalan ketat.

Kabar tersebut menjadi pembicaraan di sana sini. Utamanya para pendukungnya yang menganggap dia adalah pemimpin sederhana dan merakyat.

Jurus pencitraan Jokowi boleh saja unik. Sayangnya sudah basi.

Kabar citra merakyat seakan menutupi dosa-dosanya sebagai pemimpin. Saat ini pemerintah masih alpa terhadap hak-hak pekerja. Misalnya seperti tunjangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).



Contoh sederhana lainnya, Jokowi tidak perhatikan guru honorer. Guru honorer yang jadi masalah sekarang, tiba-tiba mau urus pengangguran, dari mana uangnya? Jokowi tidak mampu kok urusi BPJS tapi tiba-tiba mau mengurusi yang pengangguran.

Salah Jokowi terus. Salah Jokowi! Memang.
Seorang teman bernama Angga Estyar Budi bilang, "Pak Jokowi itu Presiden di negara demokrasi. Wajar dia dikritik. Kritik kepada Presiden di sebuah negara demokrasi harusnya bukan hal yang aneh. Justru pembelaan berlebihan terhadapnya lah yang aneh. Pak Jokowi dengan kesadaran penuh bersedia dicalonkan jadi Presiden. Tidak ada yang memaksanya. Ia membuat janji-janji selama kampanye juga dengan kesadaran penuh. Tidak ada yang memintanya. Tolak utang luar negeri, stop impor, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, dan seterusnya, dan sebagainya. Kalau sekarang janji-janji itu ditagih, ya wajar. Kenapa jadi dibilang benci? Pak Jokowi itu dikritik bukan karena dia adalah Jokowi mas, tapi karena dia adalah pejabat publik, Presiden, elected official di negara demokrasi. Karena dia punya janji-janji yang belum dilunasi atau malah diingkari."

Dengan naiknya Jokowi di KRL bukan berarti segala masalah kelar. Utang tak akan mendadak lunas atau minimal kita lupa. Jangan sampai kita dininabobokan oleh pencitraan murahan. (@paramuda)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search