Menjawab Artikel Tirto "Sisi Kejam Shalahuddin Al-Ayubi dalam Perang Salib"

- Maret 04, 2019


"Shalahuddin Al-Ayyub meninggal pada 4 Maret 1193. Kisah tentang dirinya kerap diwarnai sanjungan. Namun, ada sisi kekejaman sang panglima dalam Perang Salib Jilid Kedua yang membuatnya sangat ditakuti lawan," kata keterangan dalam tautan laman media Tirto di media sosial pada Senin (4/3/2019).

Disebutkan dalam laman media Tirto, "Sudah dalam tradisi Arab bahwa seorang tuan rumah tidak boleh membunuh lelaki yang ia beri makan dan minum. Ketika Reynauld minum dengan begitu entengnya tanpa perintah tuan rumah, Shalahuddin bertanya, “Siapa yang mengizinkanmu minum?”

Reynauld cuma bergeming. Shalahuddin pun melanjutkan kalimatnya, “Karena itu aku tidak diharuskan menunjukkan belas kasihan kepadamu.” Seketika kalimat itu usai, Shalahuddin langsung mencabut pedang dari sabuknya dan memenggal kepala Reynauld di hadapan Guy yang ketakutan dan yakin bahwa gilirannya akan tiba.



Pendakwah dan penulis buku Ustaz Salim A. Fillah menanggapi artikel Tirto yang dinilai serampangan.

Tulisan Tirto nyatanya menjadikan film sebagai referensi.

"Sayang sekali, nama besar Tirto dimurahkan dengan judul ala-ala clickbait. Pembaca mengira akan menemukan data berreferensi yang belum mereka tahu; ternyata hanya adegan film tentang qishash adil pada Reynald De Chattilon dan ianya jauh dari gambaran umum tentang apa itu "kejam"," kata Ustaz Salim.

Di film Kingdom of Heaven, barat pun menggambarkan Saladin sbg sosok yang pemaaf tidak selacur yang dituliskan Tirto. Dalam perang bunuh-membunuh itu hal "normal".  Kalau tidak membunuh maka akan dibunuh.

Judul dengan isi tulisan Tirto tidak selaras. Bahkan dalam subtema diceritakan bahwa Raja Guy Lasgana dan pasukannya yang memperkosa dan membunuh para muslim pada saat gencatan senjata berlangsung.
Tirto menciptakan kekejaman baru dengan judul yang sundal klik. Menjadi media pseudo ilmiah.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search