Gaji Buzzer Politik; Demi Kebenaran atau Uang?

- Maret 06, 2019
Saya tidak begitu terkejut ketika membaca sebuah artikel di suara (dot) com, yang memaparkan tentang pendapatan Buzzer Politik di Media Sosial yang berada di atas Upah Minimun Regional. Hal ini berdasarkan ungkapan dari Rinaldi Camil, seorang peneliti Center for Innovation Policy and Governance (CIPG). Dahsyatnya lagi, ada agensinya. 

Bayangkan saja, jikalau Buzzer yang bekerja di wilayah di DKI Jakarta, paling tidak ia akan mendapatkan gaji sebulannya 3,9 juta, dengan jam kerja 8-10 jam. Kalau di Jogjakarta, ya 2 jutaanlah. Kalau di Surabaya? Ya hampir sama kayak di Jakarta. Bandung? Cari sendiri saja. Googling. 



Kata Rinaldi, ada tiga unsur utama yang terlibat dalam hal ini. Pertama, Pengguna. Itulah partai politik. Politikus. Pejabat atau yang mau jadi pejabat. Atau siapa saja yang berkepentingan. 
Kedua, Agensi, yang menjadi jembatan antara Pengguna dan Buzzer. 

Ketiga, Buzzer. Ada yang bermain sendiri. Ini biasanya udah punya nama di media sosial, dengan jumlah follower bejibun, yang tulisannya biasanya di share berkali-kali. Dan ada juga yang bermain berkelompok. Biasanya ada koordinatornya, yang statusnya lebih senior dan lebih paham permainan politik. 

Buzzer, dalam pandangan saya, itu ada dua kategori: 

Pertama, Buzzer Ideologis, yaitu Buzzer yang memang mem-buzz demi menyuarakan kebenaran. Baginya, apa yang diperjuangnya, tidak akan bisa dinilai dengan uang. Cukup pahala dari Maha Penguasa menjadi ganjaran baginya. 

Kedua, Buzzer Pragmatis, yaitu Buzzer yang mem-Buzz demi bayaran uang yang didapatkannya. “Ada uang, saya ikut Anda. Tidak ada uang, saya diam. Lawan Anda bayar saya, Anda menjadi sasaran saya.” Itulah prinsipnya. Baginya, uang adalah Tuhan, uang adalah kendali, uang adalah ukuran kebenaran. 

Dalam konteks politik sekarang, dahulu, dan yang akan datang, Buzzer jenis ini bisa jadi ada di kelompok manapun. Bisa jadi. Sekali lagi bisa jadi. Tapi di kubu siapa Buzzer bayarannya paling banyak, saya tidak tahu. Rakyat bisa menilai. Anda juga bisa menentukan. Asalkan, logika sehat. 

Hanya saja, saya mengajak siapa pun yang menjadi Buzzer, jadilah Buzzer ideologis, yaitu Buzzer yang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kebangsaan; nilai-nilai agama dan nilai-nilai moral; nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Cukup Rabb Maha Kuasa yang membalas usaha Anda.

Jangan sampai, dengan uang yang mungkin bagi sebagian orang bernilai lumayan, membuat silap mata, tertipu, mau menjual masa depan bangsa. Uang Buzz akan habis. Namun derita di masa depan, akibat membuzz sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak sesuai fakta, sesuatu yang hoaks, akan tetap menyisakan nestapa, derita, bagi Anda, anak-anak Anda, dan cucu-cucu Anda.

Demikian, 
Denis Arifandi Pakih Sati
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search