Dungu Hakiki

- Februari 27, 2019
Meia Seis
Kata "dungu" belakangan ini begitu popular. Utamanya jelang kontestasi pemilihan presiden 2019 dan calon anggota legislatif.

Kata dungu dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan dengan, sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh.

Adalah pemikir yang juga eks dosen Universitas Indonesia Rocky Gerung yang belakangan mempopulerkan kata itu. Kata yang ditujukan kepada mereka yang mendukung rezim berkuasa saat ini. Atau mungkin juga rezimnya sendiri yang menjabat kata itu.

Lalu pantaskah jika kata itu disematkan pada mereka?



Rezim saat ini,  Jokowi,  memang kerap melakukan kebohongan. Kebohongan tersebut antara lain, ia mengaku tidak akan bagi-bagi kursi, kabinet akan ramping. Bohong tidak akan menaikkan harga BBM, bohong tidak akan impor, bohong terkait mobil nasional Esemka.

Ada lagi? Bisa dicek di peramban utamanya saat debat kedua calon presiden baru-baru ini.

Seperti orang yang jatuh cinta,  nyatanya membuat orang susah dibilang alias batu. Meski banyak kebohongan yang mengemuka,  pendukung Jokowi masih saja mengelu-elukan dan kerap menceracau bahwa Jokowi itu simbol kesederhanan. Iya,  sederhana mengecilkan janji-janji.

Kedua,  para pendukung rezim mendadak menjadi orang yang kuat membela agama yang awalnya beralasan "Tuhan nggak perlu dibela". Ini bermula dari gerah dengan doa dari emak-emak seperti Neno Warisman.

Mengutip omongan pendakwah yang juga pemerhati politik Ustaz Haikal Hassan, "Tidak ada ketololan yg lebih dahsyat dari orang yg marah dan protes dari puisi pribadi emak2..., tapi DIAM ketika seorg pemimpin partai hendak menghapus semua perda syariah. Lalu berlagak membela tuhan?
Ente piaraan siapa ya?"

Barangkali inilah definisi dungu sebenarnya. Dungu hakiki. (@paramuda)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search