Debat Kedua Capres dan Munculnya Kesadaran Kolektif Publik

- Februari 18, 2019
bisniscom
Handi Risza
Jubir BPN Prabowo Sandi
Caleg PKS DPR RI No 2
Dapil Sumbar 1

Dahsyat... itulah kata-kata yang bisa kita ucapkan melihat respons dan tanggapan publik terhadap debat Capres sesi II Jokowi vs Prabowo pada malam tanggal 17 Februari lalu. Betapa tidak setiap ucapan baik dalam bentuk data, peristiwa dan kebijakan langsung di crosscheck kebenarannya oleh publik.

Kesadaran kolektif publik mulai bangkit, ketika Capres 01 menyebutkan sudah tidak ada lagi kebakaran hutan tahun 2018, lembaga sekelas Greenpeace langsung mengklarifikasi data tersebut. kebakaran hutan dan lahan masih ditemukan hingga sekarang. Bahkan
Data dari Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DPKG-KLH) menunjukkan sampai dengan tahun 2018 masih terjadi kebakaran hutan.

Begitupula ketika Petahana menyebutkan sudah tidak ada lagi konflik agraria pada sepanjang tahun 2018, tidak selang berapa lama kita langsung disuguhi informasi dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dimana disebutkan sepanjang 2018 terdapat 300 kasus konflik agraria yang terjadi di 16 provinsi. Dari 300 konflik tersebut, YLBHI menemukan 367 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan luasan lahan konflik mencapai 488.404,77 hektar.

Hal yang sama juga terjadi, ketik Capres 01dengan bangga mengungkapkan total produksi beras tahun 2018 sebesar 33 juta ton dan total konsumsi sekitar 29 juta ton. Tidak berapa lama kemudian, para netizen langsung menampilkan data yang benar bahwa konsumsi beras nasional 2018 sebesar 33 Juta ton dan Data produksi plus impor sebesar 46,5 juta ton. Entah siapa yang membisiki data tersebut ke beliau.



Begitupula ketika data impor jagung diungkapkan oleh Petahana sebesar 180.000 ton sebagai sebuah prestasi, langsung disanggah oleh para netizen yang menyebutkan data yang lebih sahih menunjukkan impor jagung semester 1 saja 331.000 Ton dan total impor jagung tahun 2018 sebesar 737.228 ton. Lagi2 datanya terbantahkan.

Lebih lucunya ketika dengan berapi-api Capres 01 menunjukkan bagaimana secara heroik berkunjung ke perkampungan nelayan pukul 00.00 malam hanya ditemani sopir untuk memastikan bahwa kebijakannya tidak ada yang merugikan nelayan, seketika itu langsung menjadi olok2 netizen bahwa pada tengah malam nelayan justru sedang melaut, lalu siapa yang beliau temui...?

Bahkan niat untuk menjebak Prabowo dengan menggunakan istilah yang mungkin tidak dipahami Unicorn seperti yang juga dilakukannya pada saat debat Capres 2014 lalu dengan istilah TPID, berhasil dipatahkan, bahkan Prabowo secara bijak mengingatkan jika pemerintah hati-hati dalam mengambil kebijakan, mengingat perkembangan teknologi yang bersifat inovatif tersebut bisa mengancam industri nasional dan kita kembali menjadi penonton di rumah sendiri, sedangkan yang mengambil keuntungannya lagi2 para pemodal besar. Mungkin pada saat itu penonton yang mendengar tertawa, tetapi fakta menunjukkan  sebagian besar para Unicorn kita sudah dimiliki asing, bahkan produk yang ditawarkan pun sebagian besar berasal dari asing. Sekali lagi kita harus hati2 dengan imperialisme gaya baru.

Begitupula dengan data-data lainnya yang disampaikan petahana, mulai dari jalan desa, infrastruktur, jaringan 4G, palapa ring, B20, LRT/MRT semuanya langsung diklarifikasi oleh publik tepatnya oleh netizen di media sosial, baik yang langsung mengatasnamakan organisasi maupun individu. Bahkan sebagian dari mereka kita kenal sebagai para pakar, akademisi, ahli dan masyarakat awam yang langsung mengcrosscheck ke sumber data pemerintah sendiri, baik dari kementerian terkait maupun dari BPS

Penampilan Prabowo malam itu bukannya dibawah perform, tetapi beliau memilih untuk menpertahakan adab dan etika yang beliau yakini selama ini. Beliau tetap menyerang tapi dengan cara yang elegan, tidak menyerang pribadi tetapi kebijakan, ketika beliau bertanya tentang kebijakan impor pada saat panen. Begitupula ketika beliau diserang secara pribadi dengan kasus kepemilikan tanah, bisa diklarifikasi dengan cara yang sangat berwibawa, bahkan publik kemudian menjadi bertanya bagaimana seorang kepala negara bisa mengumbar HGU milik warga negarannya yang dilindungi UU, bahkan Prabowo bisa menyerang balik dengan penguasaan lahan yang jauh lebih besar oleh orang disekeliling 01, tapi itu tidak dilakukan. Jadi penampilan Prabowo malam itu, telah membalikkan stigama publik selama ini, bahwa beliau sebagai pemimpin yang sangar dan galak, sesungguhnya adalah pemimpin yang baik dan sabar. Bahkan beliau telah menjadi pemenang dihati publik.

Jadi sejatinya Capres 01 saat ini sedang tidak berhadapan dengan Prabowo-Sandi sebagai Capres penantang, tetapi telah berhadapan dengan publik yang resah, gelisah, geram dan marah dengan setiap pencitraan yang dilakukannya selama ini, sehingga setiap kata yang terucap akan selalu dicurigai dan data yang disampaikan tidak akan begitu saja dipercayai dan itu terbukti pada malam 17 Februari lalu, dimana hampir semua kata dan data yang disampaikan langsung dibantah oleh publik sendiri. Tentu kita berharap munculnya kesadaran publik yang kolektif terhadap tindak tanduk pemimpinnya, menjadi sebuah harapan akan munculnya perubahan pada tanggal 17 April 2019 nanti. Wallahu'alam.
Advertisement

1 komentar:


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search