Dear, Teman-Teman Gue yang "Belok" Kenormalannya

- Februari 13, 2019
unsplash
Oleh: Indra S. Manullang

Gue tahu mungkin akan kalian anjing-anjingin. Gue tahu kalian nggak ingin urusan pribadi kalian terlalu diikutcampuri. Gue tahu kalian ingin bebas menentukan hidup kalian sendiri. Termasuk urusan seks dan kecenderungan hati.

Gue juga tahu dengan kalimat yang pernah kalian katakan, "Bro, urusi hidup lu sendiri. Ngurusi hidup sendiri saja belum becus, ngurusi hidup orang lain."

Dan gue tahu dengan kalimat kalian, "Memang lu utusan Tuhan? Enak saja menjadi hakim hingga memvonis orang bakal masuk neraka!"

Baiklah, kita bicara sebentar sambil menikmati latte, cappucino, affogato atau whatever yang sudah kalian sediakan. Atau secangkir teh hangat yang membuat kalian nyaman. Agar diskusi lebih hangat di siang yang adem ini.

Gue mempunyai permisalan, analogi, contoh kasus dan terserah apa istilahnya.

Gue memulai hidup dengan bersih. Dengan mandi untuk menghilangkan bau dan daki yang mendaki badan. Memakai baju yang sudah tercuci, terseterika dan memakai wewangian. Ya, gue hidup bersih meski masih tergolong missqueen di mata kalian. Agar bau badan dan pakaian gue nggak mengganggu hidung orang di sekitar gue.

Gue juga membuang sampah pada tempatnya. Mengantongi bungkus permen jika belum menemukan tong sampah. Nggak pula membuang sampah di got dekat rumah.

Namun suatu ketika gue punya tetangga, punya teman, yang kerap bau badan, malas mandi, baju nggak disetrika dan nggak memakai wewangian. Nggak mengapa, gue bisa memakai masker sekali pakai yang sering disediakan oleh tukang ojek online. Mata gue menguatkan pandangan. Lama-lama baunya mendatangkan polusi hidung. Rasanya dilanda bersin nggak berkesudahan.

Suatu ketika pula tetangga gue nggak membuang sampah pada tempatnya. Membuang bungkus permen sembarangan. Membiarkan got penuh dengan sampah plastik dan sampah daun dari halaman rumahnya.

Suatu ketika hujan turun. Mendadak depan rumah gue banjir. Padahal gue membuang sampah pada tempatnya, rutin membersihkan got jika ada sampah. Ternyata ini semua salah gue.

Iya, salah gue. Gue asyik hidup bersih sendiri. Gue lalai. Gue nggak mengingatkan tetangga gue untuk membuang sampah pada tempatnya. Gue cuek bebek dan nggak merangkulnya. Hingga banjir yang dikirimkan Tuhan itu pun datang.

Oleh sebab itu, gue terlalu cerewet soal Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Gue setuju apabila diubah jadi kejahatan seksual ketimbang kekerasan seksual. Kalau diubah jadi kejahatan seksual, maka penyimpangan dan kekerasan masuk keduanya.

Gue curiga RUU ini membawa penumpang gelap, atau hidden agenda. Kita artinya gue dan elu-elu memang harus hati-hati, tanpa mengesampingkan kondisi para korban yang telah menanti kepastian nasib mereka itu..

Tapi kalau sampai RUU ini diloloskan begitu saja tanpa ketelitian, alih-alih melindungi 1000 orang bisa bisa kita malah membuat puluhan ribu bibit bibit penyimpangan prilaku dan moral lain berkembang.

Seharusnya nggak boleh ada ruang untuk orientasi seksual yang menyimpang di negara ini. Karena ga sesuai dengan Pancasila. Yes, gue menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila--demikian juga elu-elu.

For your information, RUU memberi angin segar buat orang-orang macam lu karena memberikan perlindungan. Perlindungan yang semu, absurd! Makanya gue gedeg banget dengan fraksi-fraksi di parlemen yang mendukung RUU ini. Sama gedegnya dengan politisi, sorry to say, macam Eva Kusuma Sundari dari PDIP, Rahayu Saraswati dari Gerindra dan Maman Imanulhaq dari PKB. Lengkapnya mungkin kalian bisa googling gimana rekam jejak mereka.


Begitulah.


Gue tahu, kalian orang baik. Sangat baik. Dan gue percaya kalian bisa berubah. Nggak masalah gue dianjing-anjingin oleh kalian atau kalian anggap ini drama. Tapi lebih baik dianggap drama ketimbang dianggap komedi. Segalanya terasa begitu lucu. Ketawa dan ketawa lalu mati hanya sebagai bangkai.  [Alumni212.id}




Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search