Sungguh Beruntung Orang yang Menyucikan Jiwanya

- Januari 06, 2019
sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pilihan kepada manusia. DiilhamkanNya jiwa manusia untuk menempuh jalan fujur dan jalan taqwa. Dipersilakan oleh Allah untuk memilih; kedurhakaan atau ketaqwaan.

Dia memberi manusia pilihan untuk menyucikan jiwanya (tazkiyah) atau mengotorinya (tadsiyah). Namun Allah menegaskan akibat dari pilihan itu.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (As-Syams 9)

Tentu kita ingin mendapatkan keberuntungan dan tidak ingin merugi. Kita ingin berakhir dengan kebahagiaan abadi bukan menderita tersiksa panasnya api neraka.

Maka tak ada pilihan lain kecuali kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk menyucikan jiwa kita, tidak mengotorinya. Tazkiyatun nafs, bukan tadsiyatun nafs.

Pertama dan paling mendasar, bersihkan jiwa dari kesyirikan. Isi jiwa dengan tauhid dan jangan sekali-kali mengotorinya dengan syirik. Ini tazkiyatun nafs yang paling pokok. Sebaik apapun jiwa seseorang jika ia syirik, maka kebaikan-kebaikan itu tak ada artinya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selanjutnya, bersihkan jiwa dari penyakit-penyakit jiwa lainnya. Bersihkan jiwa dari takabbur. Inilah penyakit yang membuat iblis diusir dari surga. Ia merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan dari tanah sementara dirinya diciptakan dari api.

Janganlah kita merasa lebih baik dari orang lain sehingga menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Karena itulah takabbur alias kesombongan. Takabbur adalah pakaian Allah dan tidak ada hamba yang boleh memakainya.

Bersihkan jiwa dari hasad. Inilah penyakit yang membuat Qabil membunuh Habil. Pembunuhan pertama anak manusia yang pelakunya akan terus menerus mendapatkan dosa saat ada pembunuhan berikutnya karena ia telah mempelopori kejahatan pembunuhan.

Bersihkan jiwa dari sifat suka mengeluh, kikir, kufur nikmat dan penyakit-penyakit hati lainnya. Penuhi dengan sifat-sifat terpuji; sabar, syukur, ridha, tawakkal, dan seterusnya.

Di antara ciri tazkiyah, ia membawa kebahagiaan bagi jiwa. Bahagia yang sebenarnya. Sebaliknya, di antara ciri tadsiyah, ia membuat hati menderita. Misalnya bersyukur, ia membuat hati bahagia. Namun kufur nikmat, membuat hati menderita. Demikian pula sabar membuat jiwa bahagia, tapi suka mengeluh membuat jiwa justru lebih menderita. [Alumni 212]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search