Kisah Nyata 3 Pertanyaan Anak Jakarta, Jika Ustaz Tak Bisa Jawab Ia Akan Murtad

- Januari 25, 2019
Add the beggar 
Ada seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Ia berada di lingkungan teman-teman yang atheis. Suatu kali ia pulang ke Jakarta,  dirinya sudah mulai terpengaruh pemikiran atheis.

Ia mengajukan tiga pertanyaan kepada seorang ustaz, "Kalau ada ustaz yang tidak bisa menjawab, saya akan murtad," kata dia pada ayahnya.

Ayahnya meminta agar pertanyaan itu ditujukan kepada dirinya dahulu sebelum ke ustaz.

"Katanya dalam Alquran,  iblis itu diciptakan dari api. Benar, Ayah?"

"Benar."


"Alquran juga menceritakan bahwa nanti iblis akan masuk neraka. Neraka itu isinya api,  Ayah. Benar,  Ayah?"

"Benar."

"Iblis dari api dan disiksa dari api. Rasa apa?"

Ayahnya tak bisa menjawab pertanyaan anaknya.

"Yang kedua,  katanya Tuhan kita Allah.  Tapi Allah nggak kelihatan Ayah? Saya mau yakin Allah itu ada. Tapi tolong berikan saya contoh satu saja.  Fenomena alam yang tak kelihatan tapi bisa saya rasain. Supaya saya yakin Tuhan itu ada."

Ayahnya tak bisa menjawab karena tak memiliki kapasitas keilmuan.

"Yang ketiga,  ada kalimat dalam Islam yang tak bisa dibantah,  yaitu takdir.  Apa itu takdir,  Ayah?"

Ayahnya tak bisa menjawab. Ia pun mencari ustaz agar bisa membantu menjawab pertanyaan itu.

"Ustaz, saya mempunyai tiga pertanyaan. Jika bisa dijawab, saya akan tetap Islam. Jika tidak, saya akan murtad. Tapi Ustaz jangan marah ya?!" kata anak muda itu.

"Baik, silakan," kata Ustaz.

Ia pun mengatakan hal yang sama seperti yang ditanyakan kepada ayahnya. Tiga pertanyaan.

Setelah mengajukan pertanyaan,  lalu apa yang terjadi? Ustaz tersebut berdiri dan menampar anak muda tadi.

"Kan tadi Ustaz janji nggak akan marah?!"

"Saya nggak marah. Tamparan saya ini jawaban atas tiga pertanyaanmu."

"Bagaimana Ustaz? Tolong dirincikan."

"Masalah pertama iblis. Saya tanya, pipi kamu komposisinya apa? Kulit, daging sama tulang. Tangan saya kulit, daging dan tulang. Waktu saya tampar, sakit tidak?" tanya Ustaz.

"Sakit."

"Begitu pula iblis saat di neraka." Ia menjelaskan secara logika karena anak muda tadi pakai analogi .

Yang kedua, fenomena alam tapi tidak bisa dirasakan. Waktu ditampar anak muda itu merasakan sakit. "Kamu bisa lihat tidak (rasa sakit itu)? Dari mana semua ini matahari, bulan dan bintang, manusia beragam warna kulit, semua berasal dari mana? Ada tidak yang mengaku Tuhan dan menciptakan ini semua? Firaun mengaku Tuhan, begitu tenggelam di Laut Merah tidak bisa apa-apa. Namrud mengaku Tuhan, didatangi lalat, mati. Sakit itu contoh fakta. Nggak bisa dilihat tapi bisa dirasain. Ada hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata tapi ada."

Soal yang ketiga, tentang takdir. "Pernah nggak kamu berpikir kita ketemu sehari dan saya tampar kamu?"

Anak muda itu menggeleng.

"Itulah takdir."

Akal memang harus mengikuti wahyu, bukan wahyu mengikuti akal.  Menjelaskan ke orang yang hanya mengandalkan logika perlu dengan analogi yang tak jauh berbeda.

Anak muda itu pun mendapatkan jawaban yang pas. Ia tidak jadi murtad dan tetap beriman kepada Allah SWT. (Paramuda)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search