Cerita Masjid di Xinjiang Menjadi "Kuburan" Mewah

- Januari 26, 2019
Oleh: Azzam Mujahid Izzulhaq

Judul asli: Xinjiang-ku Sayang: Mengapa Harus Ada Beda Perlakuan?

Masjid-masjid di Xinjiang berpagar rapat dan tinggi. Sepi. Di gerbang pagar dibangun ruang pemeriksaan yg dijaga aparat keamanan.

Setiap orang yg hendak masuk ke masjid, wajib melalui ruangan ini. Diperiksa identitas diri. Barang bawaan. Hingga telepon genggam dan atau perangkat fotografi.

Dalam ruangan ini ada mesin x-ray, gerbang detektor logam, dan juga alat pendeteksi logam yg dipegang. Masuk gerbang ini diperiksa serius: depan, belakang, bahka  hingga (maaf) sela-sela baju dan celana.

Masjidnya memang megah dan indah. Namun, tak banyak orang yg beribadah. Hanya orang-orang tua saja itupun dengan jumlah yg sedikit dengan waktu yg berbatas. Beberapa yg lainnya, hanya tinggal bangunan megahnya saja. Jamaahnya tidak ada. Karena masjid tak lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Masjid ditutup entah kenapa.

Jangan harap melihat aktivitas lain selain shalat di dalam hingga lingkungan sekitar masjid. Masyarakat segan dan khawatir. Orang-orang tua itu pun sekedar menunaikan ibadah wajib 15-30 menit setelah waktu shalat tiba. Lepas itu, masjid dikunci rapat seperti semula. Lingkungan pun tak ada yg nongkrong di luar pagar, semua berlalu. Seiring dengan instruksi sang penjaga agar lekas berlalu.

Beda halnya dengan di Gansu. Terlebih di kota Lanzhou. Provinsi yg juga adalah destinasi kedua dari Jalur Sutera yg dimanfaatkan untuk berniaga dari jalur Timur Tengah dan Eropa ke daratan China ini adalah provinsi kedua yg juga banyak umat Islamnya.

Masjid-masjid di Gansu terbuka kapan saja. Tanpa pagar tinggi, tanpa pula pos pemeriksaan layaknya kantor polisi. Masyarakat bebas keluar masuk masjid kapanpun. Apakah itu untuk beribadah atau pu  hanya untuk melihat-lihat atau sekadar meminum teh di sana.

Sekitar masjid hidup dan ramai. Kedai roti, restoran, toko busana muslim, hingga rumah sakit dan apotiknya ada. Lahan parkirnya juga luas. Masyarakat umum boleh memanfaatkannya. Siapapun itu, Muslim ataupun bukan.

Kondisi masjid-masjid seperti di Lanzhou inilah yg setingkali dijadikan PEMBENARAN bahwa umat Islam di China tidak apa-apa. Tidak ada pembatasan. Tidak pelarangan.

Dari mulai diplomat hingga wakil ormas, pelajar, atau mereka yg tinggal atau pernah mengunjungi China banyak yg menyangkal adanya 'perlakuan khusus' kepada umat Islam di Xinjiang atas dasar fakta di Lanzhou atau Xian.

Padahal, jarak antara Gansu ke Xinjiang saja sudah ribuan kilometer. Apalagi Xinjiang bukan 'khas' tujuan wisata yg menghasilkan uang bagi pebisnis tour dan travel. Bukan pula kota pelajar yg menjadi destinasi para pelajar. Xinjiang, walaupun indah, kaya aka  sumber daya alam, kulinernya enak dan halal, perpaduan banyak budaya mulai Asia hingga Eropa, namun 'tak menarik lagi'. Terkesan ngeru. Xinjiang seringkali disembunyikan fakta bagaimananya, acapkali dipukul rata saja: tidak ada apa-apa.

Lalu mengapa terjadi perbedaan?

Inilah yg saya akan bagikan secara offline di tanah air. Sekaligus kita berbagi bersama solusi atas masalah ini. Karena kita justru menambah masalah baru jika hanya membahas masalah.

Sahabat yg ingin tahu jadwalnya atau ingin menjadwalkan silakan menghubungi staf AMI Foundation di 081335178788 atau 08114912000.

Sampai jumpa kembali di Indonesia.

#AMI
#SelamatkanDuniaIslam
#LintasanPikiran
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search